21 Kiai NU Inginkan Halim Tak Maju ?

Depoliticanews – Surat cinta 21 kiai sepuh Nahdlatul Ulama (NU) yang
ditujukan kepada Ketua DPW PKB Jatim Abdul Halim Iskandar (Pak Halim)
mendadak heboh akhir-akhir ini.

Ini karena NU ingin ‘bersatu’ dalam memunculkan calon gubernur dan tidak
terpecah belah seperti pilgub-pilgub sebelumnya.

Pengamat politik dari Surabaya Survey Center (SSC) Mochtar W Oetomo
berpendapat bahwa, surat tersebut hanya menginginkan NU bersatu.

Terkait calon yang didukung, memang belum bisa dipastikan. Hanya saja, ia
berani mengerucutkan pada dua nama, Gus Ipul dan Khofifah.

“Para kiai ini pasti sudah punya pilihan. Tapi itu belum bisa dipastikan.
Logikanya begitu. Para kiai sudah punya jago, dan karena tidak ingin ada
perpecahan dalam tubuh NU, maka kiai dan ponpes berharap ada kesamaan
pandangan dari parpol yang berbasis NU,” tuturnya, Selasa (23/5).

Dia mengaku memang masih sulit menebak arah surat itu menguntungkan Gus
Ipul atau Khofifah. Untuk kader NU yang lain menurutnya terlalu jauh dan
belum masuk perhitungan.

Para kiai pasti memiliki perhitungan dari berbagai dimensi yang dalam
banyak hal akan sangat sulit mengerucut ke Abdul Halim Iskandar (Pak Halim).

“Antara Gus Ipul atau Khofifah, susah menebaknya. Namun yang lain kecil
kemungkinan. Bahkan Pak Halim tidak masuk hitungan. Saya rasa kalau pun
masih ada perbedaan pandangan, di tubuh para kiai, itu tetap mengerucut
pada nama Gus Ipul dan Khofifah,” paparnya.

Moechtar menegaskan bahwa Gubernur Jatim Soekarwo masih memegang kunci
utama. Para kiai dinilai tetap akan menjalin komunikasi lebih dulu dengan
gubernur dua periode tersebut. Rekomendasi Pakde Karwo sangat menentukan
sekali dalam pilgub ini.

“Menurut saya para kiai pasti akan berbicara secara khusus dengan Pakde
Karwo untuk mengambil keputusan akhir. Semua kekuatan politik sekarang
menunggu Pakde. Beliau akan menjadi King Maker,” tegas dia.

Posisi kunci Pakde Karwo ini, menurut Moechtar, disebabkan keberhasilan dia
selama ini dan kedekatannya dengan semua kekuatan dan kelompok politik di
Jatim. “Kalaupun PKB dan para kiai sudah bertemu, itu bukan akhir. Hasil
pembicaraan dengan Pakde Karwo masih bisa mengubah situasi,” ujarnya.

Artinya, lanjut dia, akan dilakukan sinkronisasi antara pilihan para kiai
dengan tokoh yang direkomendasikan Pakde Karwo. Bahkan, posisi Ketua DPD
Partai Demokrat Jatim itu tidak hanya dibutuhkan para kiai, namun juga
pihak-pihak lain.

“Ada pilihan para tokoh nasionalis. Ada pilihan para pemodal dan tentu saja
ada pilihan para aktor politik nasional. Posisi strategis Pakde adalah
bagaimana mengolah dan mempertemukan semua pilihan. Oleh sebab itu, sampai
saat ini semua partai di Jatim belum berani memastikan jagonya,”
pungkasnya. (Amr)




Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *