4 Nama Ini Diprediksi Rebutkan Jatim 1 !

Depoliticanews – The Initiative Institute telah merilis empat nama sebagai opinion leader di pemberitaan media. Mereka adalah Wagub Jatim Saifullah Yusuf (Gus Ipul), Walikota Surabaya Tri Rismaharini, Bupati Banyuwangi Abdullah Azwar Anas dan Menteri sosial Khofifah Indar Parawansa.

Nama Risma terpaut satu persen dari nama Gus Ipul. Risma disebut 32 persen, sementara Gus Ipul 33 persen. Khofifah Indar Parawansa disebut 15 persen dan Azwar Anas 11 persen. Sementara beberapa nama lain seperti Halim Iskandar, Agus Harimurti, dan Hasan Aminuddin di bawah 9 persen.
CEO The Initiative Institute Airlangga Pribadi Kusman kepada wartawan di acara Kriteria Pemimpin Jatim, Rabu (1/3) mengatakan, ada empat kriteria kepemimpinan yang menjadi catatan penting bagi warga Jatim untuk memilih pemimpinnya ke depan. Yakni, pertama, memiliki integritas (anti korupsi, anti politik uang dan berani kontrak politik).
Kedua, pemimpin problem solver, yakni berorientasi public values-bertindak pragmatis, inovatif, mengukur risiko dari suatu kebijakan. Ketiga, solidarity maker, yakni kemampuan membangun social networking, mendorong partisipasi dan mengambil inisiatif untuk menyelesaikan konflik. Keempat, political capital, yaitu pemimpin yang memiliki basis politik dari parpol, maupun basis sosial dari organisasi masyarakat dan keagamaan.
Dari empat kriteria itu, lanjut Airlangga yang sangat utama adalah Problem Solver karena tantangan yang harus dihadapi pemimpin Jatim ke depan cukup berat. “Potensi dan tantangan yang akan dihadapi masyarakat Jatim itu adalah kesenjangan pembangunan antara wilayah utara dan selatan Jatim. Sumber Daya Alam (SDA) juga bisa jadi berkah atau kutukan kalau jika tak bisa mengelola dengan baik bisa jadi potensi konflik,” imbuhnya.
“Dari empat nama opinion leader itu, semuanya memiliki integritas. Untuk kategori problem solver, lebih unggul nama Risma, Khofifah dan Anas. Lalu untuk pemimpin solidarity maker, Khofifah dan Gus Ipul yang unggul. Terakhir, Khofifah, Risma dan Gus Ipul unggul di political capital,” tuturnya.
Dia menyebut nama Risma menarik karena bisa mengejar Gus Ipul dalam hal opinion leader pemberitaan. “Padahal, Bu Risma belum bergerak dan belum menyatakan maju pilgub Jatim. Tapi pemberitaannya sudah tinggi. Ini karena prestasi dan kinerja Risma yang diapresiasi media,” ujarnya.
Dijelaskan Airlangga, Opinion leader hasil analisa 382 berita dari berbagai media (online, cetak, Radio dan TV), didominasi oleh 4 nama yaitu Saifullah Yusuf (33%), Tri Rismaharini (32%), Khofifah Indar Parawansa (15%) dan Abdullah Azwar Anas (11%). Sedangkan beberapa nama lain yang sempat muncul ke publik sebagai kandidat dalam Pilgub Jatim, seperti Abdul Halim Iskandar (Ketua DPRD Jatim dan Ketua DPD Partai Kebangkitan Bangsa Jatim), Hasan Aminuddin (mantan Bupati Probolinggo dan sekarang anggota DPR RI dari Nasdem) maupun Agus Harimurti Yudhoyono (mantan Cagub DKI Jakarta dan putra Ketum Partai Demokrat SBY) responnya tidak lebih dari 9%.
“Pilgub Jatim mendatang itu ibarat star wars (perang bintang) karena para kandidat yang akan maju memiliki power (kekuasaan) dan modal sosial yang kuat. Karena berdekatan dengan Pilpres 2019, Pilgub Jatim juga sangat berpengaruh pada peta persaingan kepemimpinan nasional mendatang,” tukas dosen FISIP Unair ini.
Pengamat politik Unair, Hariyadi sepakat dengan penilaian Airlangga Pribadi yang menyebut Pilgub Jatim 2018 nanti diwarnai dengan ‘perang bintang.’ Hanya saja, dari keempat nama yang mencuat itu, Hariyadi memprediksi hanya dua tokoh yang paling berpeluang. Yakni, Gus Ipul dan Khofifah.

Menariknya, keduanya sama-sama berlatar belakang hijau atau Nahdhatul Ulama (NU). Sayangnya, dua kandidat ini belum juga memastikan parpol mana yang akan menjadi kendaraan politik pada Pilgub Jatim nanti. “Namun dua figur ini (Gus Ipul dan Khofifah) akan mudah mendapat partai pengusung,” ucap Hariyadi.
Menurut dia, jika Gus Ipul dan Khofifah kembali bertarung di Pilgub Jatim, ia yakin dinamikanya menjadi panas. Mengingat keduanya sempat bertarung pada dua Pilgub Jatim, meski kala itu Gus Ipul hanya sebagai Cawagub yang mendampingi Soekarwo, gubernur Jatim saat ini.
“Akan seru seandainya rivalitas Gus Ipul dan Khofifah jilid 3 terjadi. Indikasi ke arah itu ada. Setidaknya elemen-elemen lama Khofifah, seperti Hasyim Muzadi dan Gus Sholah, akan all out membantu Khofifah. Sedang Khofifah sendiri tampaknya masih menyimpan dendam politik terhadap Gus Ipul. Kalau benar demikian, maka sesungguhnya Khofifah kokoh memelihara dendam politik dalam kurun waktu lama. Tentu hal semacam ini pantas dihitung oleh Gus Ipul,” papar Hariyadi.
Hal senada dikatakan oleh Fahrul Muzaqqi yang juga pengamat politik Unair, menurutnya peluang Gus Ipul menjadi Jatim 1 sangat besar.
“Saya harap Pilgub Jatim bakal menghadirkan nuansa yang lebih guyub dan sejuk dibanding, misalnya DKI karena sosok-sosok yang mengemuka sejauh ini masih sedikit banyak berkultur NU. Perihal peluang, saya melihat Gus Ipul yang notabene incumbent tentu memiliki peluang yang besar. Namun tokoh-tokoh lain seperti Bu Khofifah, Bu Risma, Pak Azwar Anas juga saya rasa punya daya saing yang tak kalah besar,” ujarnya, Kamis (2/3).
Uniknya, dua diantara nama-nama itu, yakni Gus Ipul dan Khofifah belum nampak jelas bakal menggunakan kendaraan parpol apa. Tentu saja kalau Gus Ipul dan Khofifah maju sendiri-sendiri suara NU bakal terpecah.
Apakah Gus Ipul akan merapat ke Partai Demokrat ?
“Ada kemungkinan ke situ (PD), walaupun masih fifty-fifty karena ada kemungkinan mas Agus dimunculkan, walaupun itu juga beresiko,” jawabnya.
Apakah Khofifah sudah membentuk tim pemenangan ?
“Saya kira semua tokoh dan parpol sudah mulai saling menjajaki dan membentuk tim sendiri-sendiri. Bu Khofifah tentu memiliki tim setidaknya dengan Muslimat NU,” jelasnya.
Fahrul mengatakan, ada kemungkinan Khofifah merapat ke Golkar, melihat track record kedekatannya dengan para petinggi Golkar.
Sementara itu, banyaknya meme di medsos yang mengusung slogan Agus Harimurti Yudhoyono maju di Pilgub Jatim ditanggapi pengamat politik komunikasi Universitas Airlangga (Unair) Suko Widodo. Menurutnya fenomena tersebut belum perlu ditanggapi serius meski secara personality Agus cukup layak untuk ditawarkan. “Personality dia (AHY) cukup layak ditawarkan, apalagi dia dari kalangan militer. Sebab militer di kalangan pedesaan masih sangat disukai,” ujar Suko Widodo.
Namun untuk bisa maju sebagai Cagub Jatim, lanjut Suko, kursi Demokrat di DPRD Jatim masih belum memenuhi, diperlukan koalisi dengan partai lain yang mempunyai visi sama untuk mengusung Agus sebagai cagub.
Apakah koalisi partainya nanti seperti DKI Jakarta ? Suko tidak bisa memastikan, sebab partai besar dengan kursi besar di Jatim ada pada PKB dengan 20 kursi, dan PDIP 19 kursi.
“Yang artinya hanya PKB saja yang bisa mengusung calonnya sendiri tanpa melakukan koalisi dengan partai lain,” jelas Suko.
Namun demikian, wacana Agus maju di Jatim dirasanya masih sangat jauh, bahkan sebatas rumor yang belum bisa dipercaya kebenarannya. Jika pun benar maka akan tergantung pada Demokrat yang bakal menentukan koalisi dengan partai mana.
Untuk mematangkan wacana ini, jelas Suko dibutuhkan proses dan komunikasi politik secara intens, apakah kontra produktif ataukah sungguh-sungguh bisa diterima. Meski menurut Suko ia berkeyakinan Agus tetap potensial untuk maju di Jatim, “Dia cerdas masih muda dan berprestasi,” tandasnya.
Untuk diketahui, isu Pilgub Jatim terus menggelinding, sejumlah calon digadang-gadang akan maju di pilkada Jatim 2018. Sejumlah calon gubernur itu di antaranya Saifullah Yusuf (Wakil Gubernur), Khofifah Indar Parawansa (Menteri Sosial), Azwar Anas (Bupati Banyuwangi), Tri Rismaharini (Walikota Surabaya) dan Halim Iskandar (Ketua DPRD Jatim).
Sementara sejumlah calon Wakil Gubernur juga banyak disebut layak untuk mendampingi. Di antaranya Hadi Prasetyo mantan Asisten II Sekdaprov Jatim, Kepala Dinas Pendidikan Jatim Saiful Rachman, serta Ahmad Nawardi anggota DPD RI Jatim, dan sejumlah nama lain. (Amr)



Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *