Ade Komarudin dan Istri Mangkir dari Pemeriksaan KPK

Depoliticanews – Mantan Ketua DPR, Ade Komarudin dan istrinya, Netty
Marliza kompak mangkir dari pemeriksaan penyidik Komisi Pemberantasan
Korupsi (KPK), Senin (3/7). Politikus Golkar yang akrab disapa Akom bersama
istrinya sedianya dijadwalkan diperiksa sebagai saksi kasus dugaan korupsi
proyek pengadaan KTP elektronik. Keterangan pasangan suami-istri itu
dibutuhkan penyidik untuk melengkapi berkas dengan tersangka Andi Agustinus
alias Andi Narogong, pengusaha yang menjadi rekanan Kementerian Dalam
Negeri (Kemdagri) dalam proyek KTP elektronik.

“Ada dua saksi yang tidak datang, yakni Ade Komarudin dan dan Netty,” kata
Jubir KPK, Febri Diansyah di Gedung KPK, Jakarta, Senin (3/7).

Febri mengatakan, Akom dan Netty telah menyampaikan keterangan atas
ketidakhadiran mereka dalam pemeriksaan kali ini. Kepada penyidik, Akom dan
Netty beralasan sedang berada di luar kota. Atas ketidakhadiran ini,
penyidik akan menjadwalkan ulang pemeriksaan terhadap Akom dan Netty.

“Yang bersangkutan sudah sampaikan informasi ketidakhadirannya karena
sedang tidak berada di Jakarta dan akan dijadwalkan ulang,” katanya.

Febri belum mengetahui secara pasti jadwal ulang pemeriksaan terhadap Akom
dan Netty. Yang pasti, pihaknya terus mendalami peran sejumlah anggota DPR
saat proyek KTP elektronik bergulir, termasuk peran Akom yang saat itu
menjabat sebagai sekretaris Fraksi Golkar.

“Untuk kasus KTP elektronik, minggu ini akan dilakukan pemeriksaan sejumlah
saksi, terutama dari klaster politik. Kita sudah periksa lebih 120 saksi
sebelumnya, baik dari kementerian, pihak swasta, dan ada beberapa advokat.
Sekarang kita mulai masuk mendalami fakta-fakta peran anggota DPR saat
itu,” katanya.

Bukan pertama kali Akom diperiksa sebagai saksi kasus KTP elektronik.
Sebelumnya, Akom pernah diperiksa untuk melengkapi berkas penyidikan dua
mantan pejabat Kemdagri, Irman dan Sugiharto yang saat ini persidangannya
sedang bergulir di Pengadilan Tipikor Jakarta. Dalam persidangan pada Senin
(12/6) lalu, Irman mengakui Ade Komarudin meminta bantuan uang sebesar Rp 1
miliar. Akom berulang kali membantah menerima aliran dana dari proyek KTP
elektronik.

Febri mengaku belum mengetahui materi yang akan dikonfirmasi penyidik
kepada Akom. Namun, Febri tak membantah aliran dana kepada para anggota DPR
menjadi salah satu fokus dalam mengusut kasus tersebut.

“Untuk pemeriksaan saksi yang belum datang akan lebih tepat dijawab saat
saksi dijadwal ulang. Tetapi indikasi aliran dana jadi concern KPK. Apalagi
dalam fakta persidangan kita sudah sampaikan beberapa indikasi aliran dana
itu terkonfirmasi di persidangan,” katanya. (Amr)




Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *