Begini Kronologi Kematian Patmi

Depoliticanews – Patmi (48) seorang peserta aksi semen kaki di depan Istana
meninggal dunia. Perempuan itu, meregang nyawa setelah cor semen di kakinya
dilepas.

Ketika itu, Patmi yang akan kembali pulang ke kampung halamannya,
membersihkan diri di kamar mandi. Lalu saat keluar, Patmi berteriak menahan
sakit, ia meringis lalu muntah dan langsung jatuh.

“Tepat dekat lift ini, beliau teriak dan memegang dada kirinya, lalu
muntah-muntah,” ujar Muhammad Isnur, Kepala Bidang Advokasi YLBHI, Kamis
(23/3).

Patmi sejatinya akan pulang kembali ke Pati. Ia bersama beberapa peserta
aksi lainnya diputuskan pulang setelah melalui rapat antarpeserta aksi
dengan kaki masih disemen. Patmi bersikukuh tak ingin pulang, tak mau
pasung semennya dibuka. Cerita itu baru diketahui setelah teman
seperjuangan Patmi, bernama Ani berkisah dengan menahan isak.

“Dia awalnya tak mau pulang, saya ajak pulang, tapi dia maunya tetap di
sini. Katanya, saya suruh ninggalin dia, tapi nggak tahu jadinya seperti
ini,” isak Ani.

Patmi merupakan satu dari puluhan warga Kendeng yang melakukan aksi
penolakan pabrik semen dengan mengecor semen di kakinya. Lima hari sudah
kaki Patmi terbenam dalam kotak berisi semen.

Awalnya, aksi mengecor kaki ini dilakukan sejumlah warga Kendeng, Jawa
Tengah pada, Senin, 13 Maret 2017. Aksi ini sebagai bentuk protes warga
atas keputusan pemerintah yang tetap mengoperasikan pabrik semen PT Semen
Indonesia di Rembang dan di wilayah Pengunungan Kendeng, Jawa Tengah, meski
putusan Mahkamah Agung sudah membatalkan izin pendiriannya.

Peserta aksi semen kaki ini mulai duduk dan berdiri di luar pagar Monas
dari siang sampai sore, dengan fasilitas sanitasi lapangan dan peneduh.
Pada sore hari, peserta aksi beristirahat dan menginap di YLBHI jalan
Diponegoro Jakarta.

Kemudian, pada Kamis, 16 Maret 2017, ada 55 warga dari Kabuputen Pati dan
Rembang menyusul bergabung dengan para peserta aksi sebelumnya. Dari ke-55
warga ini, hanya 20 orang yang mengecor kakinya, termasuk Patmi.
Kedatangannya tanpa paksaan bersama kakak dan adiknya dengan seizin
suaminya.

Namun, pada Senin, 20 Maret 2017, perwakilan warga bertemu Kepala Kantor
Staf Presiden, Teten Masduki untuk berdialog di dalam kantor Staf Presiden.

Usai pertemuan itu, Isnur menyebut adanya perubahan cara aksi warga, yaitu
dengan menyisakan 9 orang yang mengecor kaki, sementara selebihnya
dipulangkan, termasuk Patmi.

Namun, aksi ini tertunda dilanjutkan karena seluruh peserta aksi semen kaki
pulang ke kampung mengantarkan jenazah Patmi untuk dikebumikan.

“Sekarang masih di jalan, tadi berangkat jam 9 pagi,” kata Isnur, Selasa
(21/3).

Meski Patmi sudah tiada, tetapi warga Kendeng bertekad untuk meneruskan
niat Patmi menghentikan pengoperasian pabrik semen di Pegunungan Kendeng
ini. Untuk itu, sejumlah warga akan kembali beraksi usai memakamkan Patmi.
(Amr)




Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *