Hariman: Mahasiswa Demo kok Malah Disebut Makar ?

Depoliticanews – Indonesian Democracy Monitor (InDemo) merayakan hari ulang
tahunnya ke-17 dan peringatan 43 tahun peristiwa Malapetaka Lima Belas
Januari (Malari) atau 15 Januari 1974.

Acara tersebut juga diisi dengan diskusi bertema ‘Menyikapi Perubahan,
Kebangkitan Populisme’ di gedung Balai Kartini, Gatot Subroto, Jakarta
Selatan, Minggu (15/1).

Direktur InDemo sekaligus tokoh Malari, Hariman Siregar mengatakan, saat
ini masyarakat memasuki fase tidak percaya terhadap pemerintah, setelah
aspek hukum, ekonomi, sosial, dan keuangan tidak diterapkan dengan baik.

Hariman pun menyarankan agar pemerintah segera menemukan solusi tepat tanpa
harus mengkerdilkan sistem demokrasi yang ada sekarang. Pasalnya, gerakan
moral yang mengkritik pemerintah sudah sepatutnya ditanggapi dengan bijak,
tanpa ada cap makar.

“Kondisi sekarang ada kemunduran ekonomi. Kalau kita kembali ke negeri
kita, apa yang terjadi ini kan seperti Malari. Kita cari cara bagaimana
strategi pembangunan,” kata Hariman yang bertindak sebagai keynote speaker
pada acara itu.

“Waktu saya jadi ketua dewan mahasiswa (peristiwa Malari), penuhi
(bundaran) HI dan Istana. Sekarang malah disebut mahasiswa makar. Siapa
yang makar? Lanjut aja,” jelasnya.

Hariman mengajak kepada masyarakat untuk terus memantau kinerja
pemerintahan Joko Widodo (Jokowi) ke depan.

“Mau nggak mau 2017 kita lihat gimana prospek infrastruktur itu bukan cuma
jalan, tapi biaya. Medsos mau dimusuhi juga. Medsos produk teknologi,
produk kapitalis yang mempermudah jaringan. Itu mau dihambat lagi sama
pemerintah, ga masuk akal,” tutupnya.

HUT InDemo ke-17 dan peringatan 43 tahun Peristiwa 15 Januari 1974 (Malari)
dihadiri para tokoh. Di antaranya, Bursah Zarnubi, Hatta Taliwang, Lily
Wahid, Bambang Wiwoho, dan Eggi Sudjana.

Diketahui, Malari (Malapetaka Limabelas Januari) merupakan peristiwa
demonstrasi mahasiswa dan kerusuhan sosial yang terjadi pada 15 Januari
1974.

Aksi unjuk rasa itu bertujuan menolak masuknya modal asing ke Indonesia.
Mahasiswa melakukan demo juga bertepatan ketika Perdana Menteri (PM) Jepang
kala itu Tanaka Kakuei sedang berkunjung ke Jakarta (14-17 Januari 1974).
(Amr)




Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *