Heru Tjahjono dan dr Harsono Disebut Bersaing Jadi Cawagub Demokrat

Depoliticanews – Ketua DPD Partai Demokrat (PD) Jatim sekaligus Gubernur Jatim Soekarwo mengaku sudah menyetorkan empat nama bakal calon gubernur (bacagub) ke DPP PD.

 

“Saat ini masih dilakukan survei terhadap nama-nama itu, hasilnya Insya Allah pada pertengahan atau akhir Maret ini. Keputusan siapa yang akan diusung Demokrat diumumkan DPP pada September 2017,” tegas Pakde Karwo kepada wartawan di DPRD Jatim, Jumat (10/3).

 

Selain nama bacagub yang sudah muncul di permukaan seperti Gus Ipul, Khofifah Indar Parawansa, Abdul Halim Iskandar (Pak Halim) dan Tri Rismaharini, lanjut Pakde Karwo juga memasukkan dua nama dari kader internalnya dan dua nama birokrat aktif dari pemprov Jatim.

 

“Ngak usah disebut namanya (birokrat pemprov, red) itu, khawatir gede ndase (besar kepala). Yang birokrat itu masih belum pensiun dan mereka mantan kepala daerah,” dalihnya.

 

Sayangnya, orang nomor satu di lingkungan pemprov Jatim itu enggan mengatakan mereka itu disiapkan sebagai bacagub atau bacawagub. Info yang diperoleh, kuat dugaan dua orang birokrat ini dipersiapkan sebagai bacawagub Jatim mendampingi bacagub yang diusung Demokrat.

 

Mereka kemungkinan besar adalah Kepala Dinas Perikanan dan Kelautan Provinsi Jatim Heru Tjahjono (mantan Bupati Tulungagung dua periode) dan Kepala BLUD RSU dr Soetomo Surabaya dr Harsono (mantan Bupati Ngawi dua periode). Nama alternatif lain yang juga digadang adalah Kadishub Jatim Wahid Wahyudi (WW), pernah menjadi Pj Bupati Lamongan.

 

Pakde juga menegaskan, Demokrat siap memunculkan bacagub Jatim, walaupun yang bersangkutan dari partai lain. Ini karena Pakde menilai di Jatim itu hanya ada satu faksi yaitu faksi Jawa Timur.

 

“Saya sepakat dengan konsep faksi Jawa Timur, sehingga tak harus satu partai yang mencalonkan. Yang penting itu visi dan misi calon tentang Jatim ke depan bagaimana atau mau dibawa kemana, sehingga frekuensinya bisa sama. Sebab ngurus negoro itu tak bisa harus satu partai atau dhulur dewe,” ujarnya.

 

Ia juga berharap kultur yang baik (sustainable and change) seperti itu perlu dijaga di Jatim. Bahkan Pakde mencontohkan di Singapura mantan Presiden Lee Kwan Yu dijadikan sebagai penasihat presiden penggantinya. Sebaliknya di Philipina, presiden yang lama dipenjara oleh presiden yang baru. Begitu juga di Malaysia, presiden yang lama memusuhi presiden yang baru. “Mari kita bangun Jatim dengan kultur yang baik,” harapnya.

 

Di sisi lain, pihaknya juga tidak menginginkan para teknokratif terpecah belah saat pilgub digelar. Alasannya, teknokrat itu harus bisa jadi agen terhadap politik, bukan malah lari kesana kemari ke parpol untuk minta dukungan. “Tak ada gunanya teknokratif (birokrat) ikut berpolitik, sebab yang utama itu bagaimana bisa membangun profesionalitas yakni mengusai perencanaan hingga reportnya,” tegasnya. (Amr)




Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *