ICMI: Jika Vonis Ahok Sesuai Tuntutan Jaksa, Negara Bisa Hancur

Depoliticanews – Dewan Pakar Ikatan Cendekiawan Muslim se-Indonesia (ICMI)
Anton Tabah Digdoyo mengatakan, masyarakat tidak bisa menerima nalar dan
pola pikir Jaksa Penuntut Umum (JPU) kasus dugaan penistaan agama yang
menuntut terdakwa Basuki Tjahaja Purnama (Ahok) dengan hukuman satu tahun
penjara. Karena itu, Anton mengatakan para tokoh hukum dan tokoh lintas
agama sebagai representasi rakyat berharap hakim menghukum maksimal
terdakwa Ahok sesuai ketentuan yang berlaku.

“Sebagai negara beragama dan negara Muslim terbesar di dunia kita patut
nukil warning dari Nabi Muhammad SWA dalam sabdanya yang masyhur negara
akan hancur jika hukum tumpul pada pejabat-pejabatnya dan hanya tajam pada
rakyat jelata,” kata Anton, Senin (24/4).

Purnawirawan Polri itu melanjutkan, jika tuntutan terhadap Ahok merupakan
bentuk intervensi politik maka bukan tidak mungkin negara akan hancur.
“Jika politik diatas hukum asas rule of law rusak kehidupan bermasyarakat
berbangsa bernegara akan hancur,” ujarnya.

Anton yang juga menjabat Wakil Ketua Komisi Hukim MUI itu mengatakan,
selama ini semua kasus penistaan agama selalu dihukum berat sesuai fatwa MA
mengharuskan hakim memvonis hukuman berat pada pelakunya. “Karena kasus
penodaan agama memiliki drajat keresahan masyarakat sangat tinggi, oleh
karenanya mahkamah agung (MA) membuat fatwa agar hakim se-Indonesia
menghukum seberat-beratnya pelaku penista agama,” katanya.

Untuk itu, kata Anton rakyat Indonesia dan tokoh-tokoh Indonesia sangat
heran dengan tuntutan JPU terhadap Ahok yang hanya satu tahun penjara
dengan alasan mantan bupati Belitung Timur itu berjasa pada negara.
Terlebih, Jaksa Agung Prasetyo bilang Ahok tak terbukti menista agama Islam
sangat bertolak belakang dengan JPU yang menyatakan Ahok terbukti secara
sah telah menista agama Islam.

Hanya saja, menurut Anton meski JPU menyatakan Ahok terbukti secara sah
telah menista agama, tapi tuntutan JPU sangat bertentangan dengan akal
sehat ditinjau dari segi yuridis sosiologis filosofis hukum. Ahok, masih
kata Anton, benar-benar telah sengaja menista agama Islam secara terencana,
sistematis, terbuka, diulang-ulang dan tak menyesal bahkan menantang kalau
jadi penguasa akan terus melakukan hal itu.

“Sepertinya JPU telah terjebak kepentingan-kepentingan di luar hukum. Dan
ini sangat berbahaya akan menghancurkan NKRI,” katanya.

Mantan sespri Presiden Soeharto itu melanjutkan, tuntutan JPU yang sangat
ringan itu berefek asas equality. Ahok diperlakukan beda dari terdakwa lain
seperti Permadi, Lia Eden, Asrwendo. Musadek, Rusgiyani Andrew Handoko.
Mungkin alasan yurisprudensi tak mengikat, dengan nama-nama di atas, namun
rasa keadilan masyarakat wajib diutamakan.

“Pak Permadi menuntut secara terbuka Ahok harus dihukum berat karena
kasusnya lebih berat dari dirinya Pak Permadi juga dihukum berat padahal
cuma bilang dirinya tak beragama,” jelasnya.

Lanjut Anton, Arswendo juga menuntut Ahok dihukum berat karena ia dihukum
berat padahal ia tak sengaja menista agama. Ahok sadar dengan apa yang
diucapkan dan akibatnya. Malah konten yang sama ditemukan berulang-ulang.

Anton menuturkan, bila pertimbangan Jaksa Ahok berjasa sebagai gubernur,
logika yang digunakan jaksa sangat terbalik. Arswendo, Lia Eden, Permadi,
Musadek, Rusgiani dan lain-lain tidak makan uang negara.

“Gubernur digaji rakyat. Jika seorang pejabat melakukan kejahatan maka
vonisnya mesti lebih berat daripada orang biasa,” katanya.

Jadi kata Anton tuntutan JPU pada Ahok sangat tidak masuk akal. Ia
mempertanyakan apakah ini karena jaksa agung orang parpol? Karena itu wajar
jika rakyat menuntut jaksa agung Prasetyo dicopot. Jaksa Agung wajib
individu steril bukan kader dari partai politik apapun manapun.

“Sekarang bola panas kasus Ahok di tangan hakim. UU 48/2009 Pasal 5 (1)
menjelaskan Hakim dan hakim konstitusi wajib gali, ikuti, dan fahami
nilai-nilai hukum rasa keadilan yang hidup di masyarakat,” jelasnya. (Amr)


TAG


Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *