Ini Alasan Pemuda 24 Tahun Nikahi Nenek 67 Tahun

Depoliticanews – Sebuah video pernikahan sepasang kekasih di Kabupaten
Madiun mendadak menjadi viral.

Yang membuat video ini menjadi viral, karena jarak usia pasangan yang baru
saja menikah ini sangat berbeda.
Mempelai wanita bernama Tampi berusia 67 tahun. Tampi lahir di Madiun pada
18 Januari 1950.

Sementara, usia mempelai pria atau suaminya yang bernama Rokim baru berusia
sekitar 24 tahun, kurang dari separo usia mempelai wanita.
Di temui di rumah kepala dusun setempat, pasangan beda usia ini tampak
bahagia.

Keduanya tampak malu-malu saat ditanya perihal pernikahan mereka.
Rokim mengaku sudah mengenal Tampi sejak sekitar delapan tahun yang lalu.
Hingga akhirnya, seminggu yang lalu dia memberanikan diri untuk melamar
wanita pujaannya.

“Saya kasihan, bu Tampi hidup sendirian di rumahnya,” kata pria yang tidak
tamat Sekolah Dasar (SD), Kamis (23/3).
Pria kelahiran Nganjuk 10 Juni 1993 ini mengaku merasa iba melihat
kehidupan Tampi.

Sehari-hari usai bekerja sebagai buruh serabutan, Rokim selalu menyempatkan
waktu untuk main ke rumah Tampi.
Berawal dari rasa iba dan kasihan, lama-lama Rokim jatuh cinta dengan
Tampi. Apalagi, Tampi juga selalu perhatian dengan Rokim.

“Dia orangnya baik,” kata anak nomor tiga dari lima bersaudara ini.
Rokim mengatakan Tampi adalah cinta pertama dan terakhirnya.

Sebab, Rokim mengaku belum pernah berpacaran atau menjalin hubungan asmara
dengan wanita selain Tampi.
Meski menikah dengan wanita yang usianya terpaut sangat jauh dengannya,
Rokim merasa tidak malu.

Sebab, menurutnya usia bukanlah penghalang untuk saling mencintai.
Senada juga dikatakan Tampi, wanita yang dinikahi Rokim pada Rabu (15/3)
lalu.

Janda yang belum memiliki anak ini mengaku sangat bahagia.
Tampi yang pernah menikah saat berusia 14 tahun dan bercerai setahun
kemudian ini tak menyangka bila Rokim serius ingin menikahinya.

“Saya kaget, waktu ke rumah, dia mengatakan akan melamar saya kepada adik
saya,” katanya.

Ia sempat menganggap cerita adiknya kepada dirinya soal rencana Rokim untuk
melamarnya hanya sekadar guyon. Sebab, selain usianya sudah sangat tua,
dirinya juga sudah berstatus janda.
Selang beberapa hari kemudian, ternyata benar yang dicetakan adiknya ke
padanya Rokim beserta keluarganya mendatangi rumahnya dan melamarnya.
Hingga akhirnya pada Rabu (15/3) keduanya melangsungkan pernikahan secara
sederhana dengan memanggil penghulu ke rumahnya di RT 9 RW 2 Dusun Petung,
Desa Nampu, Kecamatan Gemarang, Kabupaten Madiun.

Ia menceritakan, ada kejadian lucu saat proses ijab berlangsung.

Rokim yang belum paham tata cara pernikahan, tidak membawa mahar
pernikahan, lazimnya dalam sebuah prosesi pernikahan.

Saat penghulu menanyakan mas kawin atau mahar pernikahan, Tampi menyerahkan
selembar uang Rp 50 ribu.
“Jadi dilamar pakai uang Rp 50 ribu,” katanya sambil tertawa.

Keduanya kini menjalani hidup serumah di sebuah rumah yang sangat sederhana.

Keduanya sempat mengajak untuk melihat kondisi rumah mereka.
Rumah Tampi sangatlah sederhana, bahkan bisa dikatakan tidak layak. Dinding
rumah bagian depan, terbuat dari kayu triplek.

Sementara di bagian belakang rumah, dinding terbuat dari potongan kayu
papan yang disusun.

Bagian belakang rumah difungsikan sebagai dapur sekaligus kandang kambing.

Seluruh lantai rumah Tampi yang kini ditempati bersama suami barunya,
berlantaikan tanah.

Tidak ada perabot mewah di dalam rumah Tampi. Hanya ada satu lemari kayu,
dan kasur kapuk tipis berukuran sekitar 2×1 meter yang digelar di lantai
tanpa dipan atau ranjang.

Tak ada peralatan elektornik, semisal tv ataupun kulkas. Bahkan untuk
memasak mereka menggunakan tungku dengan bahan bakar kayu bakar.

“Listrik rumah ini saja masih nyambung dari rumah sebelah. Belum pasang
listrik sendiri,” katanya.

Sehari-hari Rokim bekerja sebagai buruh serabutan dengan penghasilan Rp 50
ribu hingga Rp 95 ribu.

Sementara istrinya yang juga bekerja sebagai buruh dan tukang pijat ini,
berpenghasilan Rp 30-40 ribu per hari.
Meski keduanya hidup dalam kesederhanaan, namun keduanya tampak bahagia.

Mereka tidak memiliki banyak keinginan, selain dapat hidup bersama hingga
maut memisahkan ajal mereka. (Amr)




Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *