Ini Penjelasan Agus Soal Membangun Tanpa Menggusur

Depoliticanews – Dalam debat kedua Pilkada DKI 2017 pada Jumat (27/1) tadi
malam, calon Wakil Gubernur DKI nomor urut 2 Djarot Saiful Hidayat meminta
penjelasan kepada calon Gubernur DKI nomor urut 1 Agus Harimurti Yudhoyono
soal ide Agus yang membangun tanpa menggusur. Ada yang merasa tak puas
dengan jawaban itu. Apa tanggapan Agus?

Saat ditanya, Agus sendiri tak menyalahkan pandangan orang yang tidak puas
atas jawabannya tersebut. Menurutnya, keterbatasan waktu menjadi penghalang
dalam menjelaskan maksud visi dan misinya.

“Saya tidak menyalahkan yang menyangka seperti itu. Karena tentu dalam 2
menit tidak bisa banyak yang dijelaskan. Saya menjelaskan secara prinsip
ya, tidak mungkin dalam 2 menit menjelaskan secara teknis. Sekali lagi,
debat ini adalah kesempatan untuk menjelaskan gagasan dan komitmen. Bukan
menjelaskan secara teknis,” kata Agus saat berkunjung ke kawasan Pisangan
Timur, Jakarta Timur, Sabtu (28/1).

Agus mengatakan, jika terpilih menjadi pemimpin DKI, dirinya memiliki waktu
5 tahun untuk menjelaskan kepada publik tentang visi dan misinya.

“Kita punya 5 tahun untuk bisa menjelaskan itu. Kalau diberi kesempatan
memimpin, 5 tahun itulah waktu untuk menjelaskan kepada publik. Tetapi
dalam debat, dalam 2 menit, yang paling penting adalah masyarakat memahami
bahwa Agus-Sylvi ingin menata Jakarta, membangun Jakarta lebih baik lagi,
menjadi cantik, menjadi bersih, tertata, tetapi dengan tidak menggusur
warganya,” katanya.

Agus pun memberikan penjelasan soal membangun tanpa menggusur yang sempat
ditanyakan Djarot dalam debat kedua. Menurut Agus, caranya adalah
memindahkan warga bersangkutan ke tempat sementara yang tak jauh dari rumah
mereka. Selama itu, rumah mereka dibenahi dan dirapikan. Jika pembenahannya
sudah selesai, warga tersebut akan dikembalikan ke kediamannya lagi.

“Nah, caranya tentu ada. Kita bisa membangun di lokasi yang serupa,
memindahkan mereka, bukan menggusur secara permanen tanpa kompensasi, tanpa
ganti rugi, semena-mena dan temporary resettlement itu. Kemudian masuklah
di lahan-lahan hunian yang kita bangun secara bersama. Tentu itu secara
bertahap. Jadi bayangannya itu sederhananya ada semacam pilot project,
dimasukkan dulu ke sana. Dipindahkan sementara sambil lokasi rumahnya itu
dibangun kembali di rumah yang sama. Baru setelah itu bertahap, begitu
sudah jadi, masuk perlahan-lahan. Tempat yang tadi kosong lagi. Itu untuk
project berikutnya. Dilakukan secara berturut-turut,” jelas Agus.

“Nah, harapannya, akan terjadi progres tanpa harus memindahkan, menggusur
warga semena-mena jauh dari habitat aslinya, dari komunitasnya. Dengan
demikian, masyarakat akan memiliki lahan hunian yang lebih baik dan tetap
memiliki. Kalau sekarang kan digusur ke rusunawa, menyewa. Kalau nggak bisa
bayar sewa, diusir juga. Padahal mereka sudah kehilangan mata pencariannya.
Artinya, sama sekali tidak dipikirkan bagaimana nasib warga selanjutnya.
Nah, kami tidak begitu. Itulah perbedaannya, kami akan memperhatikan mereka
semua itu. Jangan sampai mereka tidak punya pilihan,” tambahnya. (Amr)




Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *