Jejak Kang Suyat Di Pilbup Magetan

Depoliticanews – Nama Kang Suyat digunjingkan dalam Pilkada Magetan karena peristiwa Pilpres 2014 dan Pilkada Ponorogo 2015. Ia menawarkan resep sederhana bagi pengembangan perekonomian kabupaten tersempit kedua di Jatim setelah Sidoarjo itu.

TAHUN depan Magetan punya hajatan memilih bupati baru. Soalnya, Mbah Mantri—sapaan Bupati Magetan Sumantri saat ini yang sudah  dua periode, akan berakhir. Siapa pengganti Mbah Mantri, memang belum jelas sosoknya. Nama-nama yang diduga akan terjun ke gelanggang pemilihan Bupati (Pilbub) Magetan 2018 praktis baru terkaan orang lain.  Yang mulai muncul dari obrolan masyarakat di warung kopi lumayan banyak. Satu di antara nama yang digunjingkan warga di sana adalah Kang Suyat. Itu panggilan akrab dari pria perantau bernama lengkap Suyatni Priasmoro.

Di jagat politik Magetan, Kang Suyat merupakan pendatang baru. Pria berusia 48 tahun itu lahir dari kawasan terpencil, Desa Nglopang Kecamatan Parang. Lebih dari separuh umurnya, dihabiskan di Samarinda, Kaltim. Karena himpitan ekonomi keluarga, sejak 1988 ia meninggalkan desa kelahirannya yang dijepit gunung dan hutan di wilayah tenggara Magetan itu. Di perantauan dia bisa melanjutkan kuliah hingga bekerja. Pernah hampir sepuluh tahun menjadi wartawan, ia kemudian menjadi tenaga ahli di DPRD Provinsi Kaltim karena latar belakang pendidikannya di disiplin hukum kenegaraan. Pada 2003 Kang Suyat mencoba berwiraswasta dengan mendirikan usaha percetakan dan penerbitan di Samarinda dan Lamongan, Jatim. Baru tahun-tahun belakangan ini ia gencar berkebun sengon, dengan konsep bagi hasil bersama petani sekitar Magetan, Madiun, Kediri, Trenggalek, Karang Anyar dan Wonogiri. 1,86 juta pohon sengon telah ditanam.

Kendati baru di kancah politik Magetan, jejak Kang Suyat  rupanya mulai diperhitungkan politisi setempat. Selain karena kedekatannya dengan kalangan kelompok tani di desa-desa, pada 2014 silam gerakannya sempat mengejutkan sebagian politisi. Seorang Sekretaris sebuah Parpol di Magetan menuturkan, menjelang pemilihan Presiden, Kang Suyat datang dengan misi pemenangan Prabowo Subianto dalam Pilpres. Kang Suyat tidak terlibat melalui mesin koalisi partai pengusung Prabowo, melainkan dengan membangun jaringan baru di luar Parpol.

Pada awalnya, sejumlah pimpinan partai dan para politisi kenamaan hanya memandang sebelah mata mendengar gerakan politik Kang Suyat menjelang coblosan Pilpres. Kabarnya ia ditugasi khusus untuk mengerek suara Prabowo di Magetan yang jeblok menurut survei sebelum coblosan. Bacaan survei menyebutkan posisi Jokowi di sekitar Magetan, Ngawi, Sragen, Karanganyar hingga mencapai 67 persen pemilihan. Magetan sebagai kandang Banteng, diramalkan banyak orang bahwa Pilpres 2014 akan dimenangi Jokowi. Setelah pemungutan suara, Prabowo membalikkan keadaan. Bos Gerindra itu unggul lebih dari 50 persen. Sososk Kang Suyat yang dibicarakan orang bak hilang di telan bumi sebelum pleno KPU. Sebagian pimpinan Parpol di Madiun, Ngawi dan Magetan mulai penasaran dengan Kang Suyat, tapi sosoknya tak juga datang setelah perhitungan Pilpres berakhir.

Sekitar setahun kemudian, jejak politik Kang Suyat muncul lagi di sekitar Magetan menjelang Pilkada 2015.  Dia rupanya sedang mengomandani lagi sebuah tim yang dipersiapkan dalam perhelatan politik Pilkada Ponorogo 2015. Tim itu mengusung Ipong Muchlissoni, menjadi kandidat Bupati Ponorogo. Pada awalnya, kemunculan Ipong juga agak diremehkan banyak orang, mengingat yang bersangkutan namanya belum dikenal di Ponorogo. Maklum, seperti halnya Kang Suyat, Ipong sejak lulus SMA juga merantau ke Samarinda. Masyarakat sekitar Ponorogo baru terkaget-kaget setelah coblosan Desember 2015 Ipong meraih suara terbanyak, dengan menghempaskan langkah M Amin, Bupati Ponorogo petahana saat itu. Peran politik Kang Suyat di balik layar dalam peristiwa Pilpres 2014 dan Pilkada Ponorogo 2015 menjadi bahan kalkulasi masyarakat dalam mengutak-atik peluangnya pada Pilkada  Magetan 2018. Namun, yang bersangkutan justru belum memberikan tanggapan secara jelas dalam debutnya di Pilkada Magetan tahun depan. ”Hari gini kok sudah bicara peluang. Belanda kan masih jauh,” kata Kang Suyat saat dihubungi wartawan media ini.

Dia menyatakan, yang lebih penting dari Pilkada Magetan 2018 adalah tumbuhnya kesadaran masyarakat setempat bahwa maju-mundurnya perekonomian daerah akan sangat dipengaruhi kualitas bupati yang ditentukan rakyat. Dengan kesadaran itu, maka anggapan lama bahwa wong cilik atau masyarakat desa atau orang awam akan sama saja nasibnya terhadap siapa pun bupati yang terpilih, harus dibuang jauh. ”Katakan Magetan ini punya beberapa potensi perekonomian yang layak dikembangkan, tetapi kalau Bupatinya tidak tanggap karena tidak peduli atau tidak cakap, mana bisa ekonomi maju? Poin ini lebih penting diketahui masyarakat lebih dulu, sebelum membicarakan peluang masing-masing kandidat. Dengan kesadaran masyarakat yang begitu, maka Pilkada akan menghasilkan pemimpin yang berkualitas. Bukan sekadar siapa yang dapat memberi uang recehan kepada masyarakat  sebelum coblosan,” kata Kang Suyat.

Karenanya, ia berpesan kelak bila masanya pengenalan kandidat Bupati tiba, masyarakat membedah rekam-jejak dan mencerna program yang akan diterapkan dalam memimpin. Apakah gagasan yang dsiampaikan para calon pemimpin masuk akal atau tidak untuk memajukan perekonomian Magetan, perlu didiskusikan secara bersama antar warga. Intinya, Kang Suyat mendorong masyarakat menjadikan Pilkada sebagai sarana untuk memajukan daerahnya. Bukan sekadar kegiatan rutin lima tahunan. ”Kalau masyarakat tidak menggunakan sebaik-baiknya daya nalar dan hati kecil dalam kaitan pentingnya memajukan daerah, maka Pilkada hanya akan menguntungkan sebagian kecil orang yang sudah mapan secara politik dan ekonomi saja,” ujarnya.

Kang Suyat mengakui, kini akhirnya dia tengah bersiap untuk menuju pencalonan Bupati Magetan. Soal partai yang akan mendukungnya, dia mengatakan pada saatnya akan berikhtiar keras mencari dukungan partai. ”Tapi dalam jabatan Bupati itu, sesungguhnya tergantung keputusan Tuhan. Jadi kesimpulan maju atau tidak maju, ya tunggu nanti apakah saya bisa memenuhi syarat yang ditentukan, termasuk dukungan partai. Intinya soal pencalonan Bupati tidak menyandera menjadi beban hidup, mengikuti seperti air mengalir saja. Kalau bisa ya maju, kalau nggak ya sudah,” tuturnya.

Ketika disinggung tentang gagasannya untuk memajukan Magetan, Kang Suyat lebih dulu melihat masalah yang melilit kabupaten ini. Di mata dia, karena posisi geografisnya, awalnya Magetan menghadapi masalah keterisolasian kawasan. Itu salah satu faktor yang kurang mendukung pengembangan perekonomian. Seiring dengan terbukanya jalur Magetan-Karanganyar, harus makin jeli membaca peluang pembukaan jalur transportasi dari kawasan ke kawasan lain yang memungkinkan berkembangnya perekonomian masyarakat. ”Dengan adanya pintu tol di Ngawi yang menghubungkan akses Jakarta dan Surabaya, Magetan harus bisa mengambil manfaat dengan membaca itu dalam konsep perencanaan pembangunan perekonomian. Bagaimana potensi itu disebarkan ke dunia usaha, agar ada investasi masuk. Kalau nggak ada investasi, percayalah ekonomi Magetan ya tetap akan jalan di tempat. Investasi menjadi salah satu dewa penolong, karenanya manajemen penanganannya harus prima,” tuturnya.

Kang Suyat berpendapat, dalam strategi pemerintahan daerah ke depan, Magetan perlu segera mendorong agar lebih banyak orang luar daerah datang ke Magetan. Apakah karena urusan bisnis atau berwisata. ”Semakin banyak orang yang datang ke Magetan, maka jelas akan memicu pertumbuhan ekonomi. Pendatang bisa beli makan di warung, apalagi menginap, atau beli produk industri kerajinan. Semakin banyak orang yang datang berkunjung, semakin besar peluang kemajuan ekonomi daerah. Karena itu, sarana pemikatnya, seperti obyek wisata harus lebih banyak dibangun dan dikembangkan. Iklim investasinya bila perlu dibuat paling mudah se-Indonesia supaya orang mau inves di Magetan. Kalau tidak dibikin mudah, siapa yang mau inves di Magetan? Tapi invesnya juga harus didorong ke arah industri yang memungkinkan mengolah bahan baku dari Magetan, khususnya dari sektor pertanian. Ini contoh-contoh cara berpikir untuk memajukan ekonomi Magetan. Kalau disingkat, resep memajukan Magetan itu adalah datangkan sebanyak mungkin orang ke Magetan, maka rezeki juga akan semakin banyak datang. Sehingga pendatang bisa membeli kerajinan dari bambu, baju batik motif pring sedapur, gethuk pisang dan produk khas daerah lainnya. Tidak cukup gagasan itu disampaikan, tapi harus diperjuangkan secara gigih, manakala itu mengandung kebenaran. Ini sekaligus saran kepada siapa pun yang kelak menjadi Bupati Magetan,” Kang Suyat membeberkan sebagian gagasannya dalam mendongkrak perekonomian Magetan.

Di luar resep sederhana tadi, menurut Kang Suyat, urusan layanan pendidikan dan kesehatan harus mendapat sentuhan utama, karena kedua sektor di bidang sumber daya manusia (SDM) itu akan menjadi kunci keberhasilan membangun. Selain itu, Pemda saatnya membatasi atau mengurangi jumlah atau rencana aksi yang berjibun dengan menggeser ke arah penajaman dan sinkronisasi serta sinergisitas antarlembaga terhadap program prioritas. ”Jangan semua sektor hendak dikejar, hasilnya belum tentu optimal. Dipilih satu atau dua sektor, yang sekiranya mampu dikembangkan sebagai lokomotif penarik gerbong perekonomian daerah,” kata Kang Suyat.




Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *