Julukan Fahd Arafiq, dari Anak Jin Hingga Santri

Depoliticanews – Langgam politisi muda Partai Golkar Fahd El Fouz alias
Fahd Arafiq mengurus dua proyek di Kementerian Agama (Kemag), antara lain
pengadaan Al Quran dan pengadaan laboratorium Mts mendapat karpet merah
dari pejabat Kemag. Setidaknya hal itu tergambar dari penggunaan istilah
yang digunakan pejabat Kemag untuk menyebut Fahd yaitu sebagai “anak jin”
dan “santri”.

‎Mantan Ketua Unit Layanan Pengadaan (ULP) Kemag Mohammad Zen mengaku tidak
mengetahui mengapa ungkapan anak jin disematkan kepada Fahd yang diketahui
sebagai putra dari pedangdut mendiang Arafiq. ‎Zen hanya mendengar ungkapan
anak jin dari Bagus, koleganya, yang mengingatkan bahwa Fahd bakal datang
untuk meminta pihaknya segera mengumumkan pemenang lelang.

‎”Dia (Fahd) minta segera diumumkan pemenang lelangnya. Waktu itu Pak Bagus
bilang ada anaknya jin,” ujar Zen saat dihadirkan Jaksa KPK bersaksi di
Pengadilan Tipikor Jakarta, Kamis (10/8).

Fahd mengakui pernah mengancam Zen dan Bagus namun dalam kesaksiannya Zen
menyatakan tidak pernah menerima ancaman langsung dari Fahd,”Waktu itu saya
menekan, mungkin dia lupa,” ujar Fahd yang juga meminta KPK segera
menersangkakan mantan Wakil Ketua DPR Priyo Budi Santoso karena ikut
menerima uang proyek Al Quran.

‎Saksi lainnya,‎ Affandi Mochtar, yang dihadirkan selaku Sekretaris Ditjen
Pendidikan Islam Kemag mengakui bahwa, Fahd dijuluki sebagai santri oleh
mantan anggota Banggar DPR Zulkarnaen Djabar untuk mengurus proyek Al Quran.

Menurut Affandi, Zulkarnaen Djabar menitipkan pesan kepada dirinya bahwa
Fahd bakal mendatanginya untuk menanyakan proyek.

“Katanya nanti ada santri yang mau bertemu,” ungkap Affandi.

Istilah santri digunakan bukan hanya untuk Fahd, tetapi pengusaha muda
Dendy Prasetia yang merupakan putra dari Zulkarnaen Djabar. Dendy dan
Zulkarnaen telah dipidana lebih dulu dalam perkara ini.

Fahd bersama Dendy selaku utusan Zulkarnaen Djabar menemui Affandi untuk
meyakinkan yang bersangkutan bahwa mereka mampu mengerjakan proyek
laboratorium. Affandi menindaklanjuti hasil pertemuan itu dengan memanggil
panitia pengadaan, Bagus Natanegara, agar menjelaskan kegiatan pengadaan
tersebut.

Fahd didakwa bersama-sama dengan anggota Badan Anggaran DPR Zulkarnaen
Djabar dan anaknya, Dendy Prasetia Zulkarnaen Putra. Ketiganya menerima
suap sebesar Rp 14,3 miliar karena mengurus PT Batu Karya Mas sebagai
pemenang dalam pekerjaan pengadaan laboratorium komputer.‎

Selain itu, mereka juga didakwa menerima suap Rp 3,4 miliar dengan mengurus
PT Adhi Aksara Abadi Indonesia sebagai pemenang dalam pekerjaan pengadaan
Al Quran tahun 2011 dan memenangkan PT Sinergi Pustaka Indonesia sebagai
pemenang dalam pekerjaan pengadaan Al Quran tahun 2012.‎

Dirinya bersama-sama dengan Dendy dan Zulkarnaen juga disebut memengaruhi
para pejabat di Kemag agar meloloskan perusahaan yang mereka tunjuk. ‎‎Fahd
menerima seluruh dakwaan Jaksa KPK dan mengakui perbuatannya. (Amr)




Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *