Kasus Pembunuhan Taruna Akpol, 14 Taruna Dipecat

Depoliticanews – Sebanyak 14 tersangka buntut kasus tewasnya Brigadir Dua
Taruna (Brigdatar) Mohammad Adam di Asrama Kesatria Akpol, Semarang, Jawa
Tengah tak hanya menghuni jeruji besi dan disidang pidana.

Mereka juga dalam proses persidangan dewan akademi di Akpol Semarang.
Persidangan dewan akademi ini untuk memutuskan dan menetapkan nasib 14
orang ini di Akpol.

“Sebagai tersangka pidana maka akan dilakukan pemberhentian tidak dengan
hormat. Proses sedang berjalan dan kami sedang memberi kesempatan para
taruna itu untuk sampaikan beberapa info,” kata Kabag Penum Polri Kombes
Martinus Sitompul di Mabes Polri Senin (22/5).

Martinus memastikan apapun info yang mereka sampaikan itu dipastikan tidak
akan mengubah nasib mereka. Mereka tetap diberhentikan dengan tidak hormat
karena pelanggaran yang sudah dilakukan misalnya melanggar aturan proses
pengasuhan senior pada junior.
“Dilarang melakukan kekerasan fisik apalagi sampai melawan hukum melakukan
penganiayaan. Juga dilakukan evaluasi menyeluruh terhadap praktik
pengasuhan yang dilakukan oleh lembaga maupun oleh senior. Diputuskan
pengasuhan oleh senior berdasar wilayah daerah sudah tak ada lagi,”
tambahnya.

Senior dan junior akan diupayakan tak lagi bertemu di luar jam akademik.
Bila ditemukan tindakan mengumpulkan dan melakukan tindakan pada junior
atas nama disiplin dan ada tindakan fisik akan dapat sanksi berat.
“Mereka itu selama ini membentuk satu korps sendiri. Seperti korps Sumut
dan sebagainya. Itu sekarang ditiadakan. Giat bersama di luar jam dinas,
misal di kos-kosan yang disewa (di luar Akpol) dihentikan. Jadi mereka
tidak boleh pesiar dan berisitirahat dari kesatriaan dengan mengelompok
asal daerah. Tak boleh,” sambungnya.
Seperti diketahui, Adam tewas di tangan tersangka yang tak lain seniornya
itu pada sekira pukul 02.20 WIB Kamis (18/5) di flat A Graha Taruna
Detasemen Tingkat III Komplek Akpol.

Krononologis tewasnya korban dimulai setelah apel malam di depan ruang
makan Akpol pada Rabu (17/5) pukul 23.00 WIB, Brigdatar MKL diberitahu oleh
seniornya, Brigtutar RLW.
Isinya perintah supaya beberapa taruna tingkat II berkumpul di Flat A Graha
Taruna Detasemen Tingkat III. Pukul 24.00 WIB, para taruna tingkat II pun
kumpul di Flat D Graha Taruna Tingkat II.
Mereka selanjutnya berangkat menuju Flat A di tangga bawah belakang melalui
tebing di belakang kantor Detasemen Taruna Tingkat III.

Sekira pukul 00.45 WIB, mereka diberi tindakan fisik oleh taruna tingkat
III, disertai dengan tindakan kekerasan berupa pemukulan, baik dengan
tangan kosong maupun menggunakan alat yang ada di dalam gudang.
Pukul 01.30 WIB Brigtutar CAS memanggil korban. Selanjutnya Adam diberi
tindakan sendiri oleh CAS dengan cara memukul menggunakan tangan kosong
sebanyak satu kali ke arah dada/ulu hati.

Korban dalam posisi berlutut hingga korban menunduk dan mengeluh kesakitan
sambil memegang dada dengan kedua tangannya. Tapi korban tetap dipukul
hingga lebih dari lima kali sampai korban jatuh tersungkur di lantai.
Setelah tersungkur korban ditelentangkan oleh CAS untuk dicek kondisi
kesehatannya. Bahkan sempat diguyur mukanya menggunakan air mineral namun
korban tetap tidak sadarkan diri.

Selanjutnya korban dibawa keluar gudang yang dibantu Brigtutar lainnya agar
mendapatkan udara segar namun korban tetap tidak sadarkan diri.

Kemudian korban dibawa ke salah satu kamar A.3, melalui kamar mandi, untuk
diberikan pertolongan dengan cara dada ditekan menggunakan kedua tangan 30
kali kemudian ditiup mulut dua kali.
Hal itu diulangi dengan cara yang sama akan tetapi korban tetap tidak
sadarkan diri.

Pukul 02.20 WIB CAS menghadap dan melaporkan kejadian ke Pawas AKP Agung
Basuni untuk selanjutnya dilaporkan ke Pawasden Taruna Tingkat III AKP CFR
untuk mengecek kesehatannya.

Pukul 02.30 WIB korban dibawa ke RS Akpol untuk mendapat tindakan medis.
Sesampai di RS Akpol, oleh dr Wina, yang bersangkutan dinyatakan telah
meninggal dunia.

Berdasarkan hasil visum dokter terhadap korban Kamis tanggal 1mulai pukul
14.30 sampai dengan 18.00 di RS Bhayangkara Semarang ditemukan luka akibat
kekerasan tumpul.

Yakni berupa luka memar pada pelipis kiri, leher kanan, dada dan tungkai
atas, resapan darah pada kulit pelipis bagian dalam, otot leher kanan, otot
dada, paru kanan, dan kiri.

Didapatkan tanda mati lemas. Sebab kematian adalah kekerasan tumpul pada
dada yang mengakibatkan gangguan kembang kempis dada sehingga mengakibatkan
mati lemas.

Polisi pun lalu bergerak. Barang bukti yang ditemukan di TKP antara lain
satu kayu bulat warna hitam panjang 45 cm diameter 3 cm, satu pipa
alumunium bekas gagang sapu sepanjang 60 cm, dan satu raket bulutangkis
merek Yonex gagang warna hitam.

Yang lain adalah sebuah kopel rim warna hitam, sebuah kunci slot sepeda
warna merah, tiga buah anak kancing baju PDL coklat, dan satu buah sarung
tangan buntung warna hitam.

Setelah memeriksa 21 taruna Akpol rekan korban dan tiga orang pengasuh
itulah disimpulkan jika ada 14 orang senior korban yang jadi tersangka
dengan peran masing-masing.

Selain CAS, 13 tersangka lain adalah RLW, GCM, EA, JED, MB, HA, CAE, dan
AKU. Juga GJN, RAP, RK, IZ, dan PDS.
Mereka dijerat Pasal 170 KUHP tentang bersama-sama melakukan kekerasan
terhadap orang atau barang subsidier Pasal 351 ayat (3) KUHP jo Pasal 55
dan Pasal 56 KUHP tentang penganiayaan yang mengakibatkan kematian. (Amr)




Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *