Kasus Teroris Tuban Dinilai Banyak Kejanggalan

Depoliticanews – Kepolisian dinilai harus transparan dan mrnjelaskan secara
terbuka soal kasus dugaan terorisme di Tuban, Jawa Timur, yang terjadi
Sabtu (8/4). Hal ini karena portal media sosial Divisi Humas Polda Jawa
Timur menyebutkan bahwa tujuh orang yang menyerang polisi adalah sekelompok
bandit. Namun belakangan tindakan itu diseret menjadi isu terorisme.

“Menurut saya banyak kejanggalan kalau kasus tersebut diseret ke isu
terorisme. Dari nama yang muncul dikaitkan dengan jaringan teroris Semarang
itu juga nama yang asing,” ujar pengamat terorisme Harits Abu Ulya, Senin
(10/4).

Seperti diberitakan sebelumnya, sekelompok orang di dalam sebuah mobil
mengeluarkan tembakan ke arah aparat. Saat dilakukan pengejaran oleh aparat
akhirnya mobil berhenti dan para penumpang lari ke arah kebun masyarakat.
Tak lama kemudian, enam dari tujuh orang tersebut tewas sementara satu
orang terluka. Harits mengatakan barang bukti yang awalnya hanya paspor,
beberapa telepon seluler, dan sekotak amunisi, sekarang bertambah dengan
dua mushaf Alquran, handy talky, serta dua pistol.

“Andaikan benar gerombolan tujuh orang tersebut melawan dengan senpi,
sementara barang bukti cuma dua pucuk pistol. Maka bagaimana lima orang
lainnya tersebut melawan dan berujung tewas? Nggak lucu jika seseorang
membawa bom kemudian ia lari terbirit-birit sembunyi di kebun untuk
melawan. Ini perlu penjelasan,” kata Harits.

Dia menilai saat ini masyarakat gagap untuk bisa komentar soal orang yang
tewas dengan label terduga teroris. “Karena label ‘teroris’ seolah menjadi
sertifikat halal untuk dihabisi nyawanya dan tidak ada pertanggungjawaban
atas hilangnya nyawa tesebut,” kata Harits. (Amr)




Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *