KH Hasyim Muzadi di Mata Penulis Bukunya

Depoliticanews – Ketua Dewan Pakar Ikatan Alumni Santri Sidogiri (IASS) Anwar Sadad memiliki kesan tersendiri dengan sosok Almarhum KH Hasyim Muzadi, anggota Wantimpres RI dan mantan Ketum PBNU semasa hidupnya.

 

“Saya terkesan dengan beliau, secara khusus, pada tahun 1999 saya dan teman saya Ghozi Alfatih, pernah diminta beliau (Kiai Hasyim Muzadi) untuk menulis buku tentang pemikiran-pemikiran beliau yang utuh tentang NU dan Bangsa. Buku ini didedikasikan sebagai sumbangan pemikiran beliau dalam Muktamar NU ke-30 di Lirboyo Kediri. Buku tersebut terbit, berjudul NU di Tengah Agenda Persoalan Bangsa,” katanya, Kamis (16/3).

 

Menurut Sekretaris DPD Partai Gerindra Jatim ini, pada tahun 1999 itulah perkenalan dirinya pertama kali dengan Kiai Hasyim dan sungguh sangat terkesan. Dalam penulisan buku tersebut, dia sampai berhari-hari menginap di Ponpes Al-Hikam Cengger Ayam Malang dan mengikuti kemanapun Kiai Hasyim berceramah di beberapa kota di Jatim.

 

“Buku tersebut berisi pemikiran Abah Hasyim yang saya tulis berdasarkan wawancara, sebagian besar di dalam kendaraan dalam perjalanan menuju tempat berceramah, sebagian lagi dari poin-poin penting materi ceramah beliau,” tutur anggota DPRD Jatim ini.

 

Dia menilai Abah Hasyim adalah figur inspiratif, karena mengajari dirinya dan sahabat-sahabat sejak masih menjadi aktivis mahasiswa untuk bergerak pada platform mengharmonikan keislaman dengan nasionalisme. “Abah Hasyim menunjukkan konsistensinya melakukan berbagai langkah-langkah strategis untuk menjadikan NU terlibat aktif dalam menyelesaikan berbagai agenda persoalan kebangsaan,” ujarnya.

 

Di tangan Abah Hasyim, NU menjadi organisasi yang sangat aktif bukan semata-mata sebagai organisasi keagamaan, akan tetapi juga di bidang sosial, lebih khusus pada penanganan masalah-masalah sosial yang disebabkan konflik agama, baik di Indonesia maupun di manca negara.

 

Jasa besar Kiai Hasyim Muzadi, Indonesia seakan menjadi ‘role model’ Islam yang Rahmatan Lil ‘Alamin, menjadi rujukan bagi negara-negara muslim lainnya.

 

“Safari Abah Hasyim akhir tahun lalu ke kampus-kampus besar di Australia, meskipun dalam kondisi fisik yang tidak prima karena kesehatannya menurun, menunjukkan kapasitas beliau sebagai tokoh internasional yang pemikirannya tentang Islam Rahmatan Lil Alamin diperlukan oleh dunia Islam internasional,” imbuhnya.

 

Kiai Hasyim dianggap figur dengan pemahaman keagamaan yang mengakar, menjadi figur moderat, dengan pemahaman keagamaan tersebut dan cara berpikirnya yang moderat. “Abah berada pada posisi yang dibutuhkan oleh hampir semua lapisan masyarakat. Saya merasa dididik dan dikader langsung oleh beliau. Saya merasa sangat kehilangan. Semoga beliau husnul khotimah, mendapatkan tempat terbaik di sisi-Nya. Aamiin,” jelas Anwar Sadad yang mengaku sempat membesuk kondisi Kiai Hasyim tiga hari lalu yang sudah kronis.

 

Kiai Hasyim Muzadi wafat pada Kamis (16/3) sekira pukul 06.15 WIB. Ia dikenal sebagai sosok kiai yang gigih memperjuangkan NU dan NKRI.

 

Sementara itu, Wakil Walikota Malang, Sutiaji menyebut Mantan Ketua Umum PBNU itu sebagai aset berharga bangsa Indonesia. Ia dikenang sebagai kiai yang sederhana.  “Indonesia berduka saya kira beliau aset yang berharga bagi Indonesia khususnya di Malang beliau ini pejuang,” kata Sutiaji.

 

Sutiaji mengatakan sang kiai merupakan salah satu pengusung Presiden Jokowi di pemilihan presiden lalu dan pernah menjadi Calon Wakil Presiden bersama Megawati Soekarno Putri dalam Pemilu Presiden tahun 2004.  “Beliau salah satu pengusung pak Jokowi beliau adalah sosok yang terus berjuang dimata santri dan umat,” tandas Sutiaji. (Amr)




Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *