Klaim BBPJN VIII Sepihak, Bikin Gubernur Marah

Depoliticanews – Gubernur Jatim Soekarwo marah besar menanggapi klaim dari Balai Besar Pelaksana Jalan Nasional (BBPJN) VIII. Mereka merilis ke media bahwa program sapu lubang (salub) jalan per 27 Februari 2017 pukul 23.59 WIB berhasil menyisakan lubang tinggal 0,92 persen. Artinya, mereka mengklaim sebesar 99,08 persen lubang telah ditambal.

Pakde Karwo menilai pernyataan ke media beberapa waktu lalu oleh BBPJN VIII hanyalah klaim sepihak. Ternyata kondisi jalan nasional di wilayah Jatim saat ini masih banyak ditemukan lubang.

Pengamatan depoliticanews  yang akhir pekan kemarin melintas di Jalan By Pass Krian-Mojokerto masih menemukan ratusan lubang yang menganga besar di jalanan. Memang tampak ada alat berat milik BBPJN VIII yang sedang melakukan pekerjaan menambal aspal.

Kemungkinan besar aspal yang belum kering itu mengelupas kembali, karena hujan masih turun dan kendaraan tonase berat melintas.

“BBPJN VIII jangan rilis seperti itu. Tolong cek lagi di lapangan masih banyak lubang. Ngawi sampai Caruban itu saya sampai dengkeken. Jalan nasional di Ngawi sampai Caruban hancur. Perbaikan Jalan Daendels di Manyar Gresik saja juga belum selesai. Terus terang saya tidak suka cara kerja mereka seperti itu,” tegas Pakde Karwo dengan bersungut-sungut terlihat marah.

Pakde Karwo ini mengaku, dahulu sebelum ada BBPJN VIII, jalan diurusi Pemprov Jatim bisa cepat teratasi masalahnya. “Janji Februari kemarin selesai, tapi tidak selesai. Kinerjanya ada yang tidak beres. Ini tanggung jawab kepalanya, dia kan yang gajinya paling besar. Jadi, jangan asal main klaim sudah menyelesaikan perbaikan jalan,” tukasnya.

Ia menilai perlu dilakukan sinergitas antara program nasional dengan daerah, termasuk infrastruktur jalan. Provinsi tidak bisa menangani, karena itu merupakan kewenangan pusat dan dilarang BPK RI. Hal ini juga sudah disampaikan gubernur ke pemerintah pusat saat pemaparan perubahan Rencana Pembangunan Jangka Menengah Daerah (RPJMD) Jawa Timur 2014-2019, disinergikan dengan Rencana Pembangunan Jangka Menengah Nasional (RPJMN) 2015-2019, di Jakarta beberapa waktu lalu.

Menanggapi hal ini, Kepala Bidang Pembangunan BBPJN VIII Achmad Subkhi mengaku bahwa kerusakan jalan yang masih ada itu, karena dampak hujan dan kelebihan tonase kendaraan yang lewat. “Kalau ada jalan yang masih berlubang, itu lubang yang baru. Selama hujan tidak berhenti akan muncul lubang-lubang baru tersebut,” kilahnya.

Dia juga menyalahkan, 19 jembatan timbang (JT) milik pemprov yang tidak berfungsi sejak diambil alih kewenangannya oleh pemerintah pusat per 1 Januari 2017. Ini juga menambah persoalan.

“Kendaraan bermuatan lebih itu kini semakin tidak terkendali, semenjak jembatan timbang tidak beroperasi Januari lalu,” dalihnya.

Diberitakan sebelumnya, Kepala BBPJN VIII I Ketut Darmawahana mengatakan program sapu lubang (salub) jalan per 27 Februari 2017 pukul 23.59 WIB menyisakan lubang sebesar 0,92 persen dan berjanji akan secepatnya tuntas.

“Kami berani menggunakan dana transisi atau swakelola untuk menutup lubang jalan itu setelah ada diskresi,” kata Ketut kepada wartawan saat itu.

Diskresi itu tertuang surat edaran Menteri Pekerjaan Umum dan Perumahan Rakyat (PUPR) RI Basuki Hadimuljono, SE 06/SE/2017 tentang Penanganan Mendesak/Tanggap Darurat Kerusakan Jalan dan Jembatan Pada Ruas Jalan Nasional dalam rangka Menjaga Pelayanan Publik.

Berdasarkan data BBPJN VIII hingga semester II tahun 2016, kondisi kemantapan jalan nasional di Jatim versi International Roughness Index (IRI) atau tingkat kerataan jalan adalah 94,23 persen (2.225,05 km) dan versi Surface Distress Index (SDI) atau skala kinerja jalan secara visual adalah 75,53 persen (1.783,51 km).

Dari total jalan nasional di Jatim sepanjang 2.361,23 km, yang kondisi baik 1.329,91 km (56,32 persen), rusak ringan 142,97 km (6,05 persen), rusak sedang 872,87 km (36,97 persen) dan rusak berat 15,47 km (0,66 persen). “Pada tahun anggaran 2017, kami telah menyiapkan anggaran sebesar Rp 1,2 triliun untuk penanganan dan pemeliharaan jalan nasional di Jatim sepanjang 2.361 km dan jembatan 19.922 meter,” pungkas Ketut.




Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *