KPK Tahan Ketua PT Manado dan Politisi Golkar

Depoliticanews – Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK) menahan Ketua
Pengadilan Tinggi Sulawesi Utara Sudiwardono dan anggota Komisi XI/Fraksi
Partai Golkar DPR Aditya Anugrah Mohad di dua rumah tahanan yang berbeda.

Tersangka Aditya Anugrah Moha ditahan di Rutan Kelas I Jakarta Timur Cabang
KPK di gedung KPK sedangkan Sudiwardono di rutan Kelas I Jakarta Timur
Cabang KPK yang berlokasi di Pomdam Jaya Guntur, kata Juru Bicara KPK Febri
Diansyah di Jakarta, Minggu dini hari.

Saat keluar dari gedung KPK, Aditya mengaku bahwa ia hanya ingin
memperjuangkan ibunya, mantan Bupati Bolaang Mongondow Marlina Moha Siahaan.

“Saya berusaha semaksimal mungkin, niat saya baik tapi mungkin cara yang
belum terlalu tepat sehingga saya sering saya katakan, saya berjuang saya
berusaha maksimal demi nama seorang ibu,” kata Aditya sebelum masuk ke
mobil tahanan, Minggu (8/10).

Ia juga meminta maaf kepada para pendukungnya.

“Saya selaku pribadi dan tentu atas nama apa yang menjadi amanah dan
kepercayaan, menyampaikan permohonan maaf sebesar-besarnya kepada seluruh
masyarakat dan tentunya di dapil saya Sulut, khususnya di Bolaang Raya,”
tambah Aditya.

KPK menetapkan Sudiwardono dan Aditya Anugrah Moha sebagai tersangka dugaan
suap terkait putusan banding perkara kasus korupsi Tunjangan Penghasilan
Aparatur Pemerintah Desa (TPAPD) Kabupaten Bolaang Mongondow tahun 2010.

Sudiwarsono dan Aditya diamankan dalam Operasi Tangkap Tangan (OTT) KPK di
hotel di daerah Pecenongan Jakarta Pusat pada Jumat (6/10) malam dengan
barang bukti sebesar 64.000 dolar Singapura dari total commitment fee
sebesar Rp 1 miliar dalam pecahan dolar Singapura.

Pemberian uang diduga untuk mempengaruhi putusan banding dalam perkara
ibunda Aditya, Marlina Mona Siahaan selaku Bupati Bolaang Mongondow periode
2001-2006 dan 2006-2015 yang sudah divonis bersalah 5 tahun penjara dalam
perkara korupsi TPAPD Bolaang Mongondow. Uang juga diberikan agar Marlina
tidak perlu ditahan.

Pemberian uang sudah dilakukan sejak pertengahan Agustus 2017 yaitu sebesar
60.000 dolar Singapura di Manado selanjutnya pada Jumat (6/10) kembali
diserahkan 30.000 dolar Singapura seusai penyerahan di pintu darurat salah
satu hotel di Jakarta, dan masih ada 11.000 dolar Singapura yang ada di
mobil Aditya. (Amr)




Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *