LKPI: Nama Risma dan La Nyalla Semakin Menguat

Depoliticanews – Pemilihan Gubernur (Pilgub) Jatim 2018 mendatang
diprediksi akan diwarnai pertarungan sengit. Empat kadidat bakal bersaing
untuk memperebutkan kursi Jatim 1.

Demikian diungkapkan oleh Direktur Eksekutif Lembaga Kajian Pemilu
Indonesia (LKPI) Arifin Nur Cahyono. Menurutnya, keempat kandidat kuat
adalah Ketua Umum Kadin Jatim La Nyalla Mahmud Mattalitti, Wakil Gubernur
Jatim Saifullah Yusuf, Menteri Sosial Khofifah Indar Parawansa, dan Wali
Kota Surabaya Tri Rismaharini.

“Jadi keliru kalau bilang Pilgub Jatim cuma diwarnai dua sosok, Gus Ipul
dan Khofifah saja. Realitas politik di lapangan menunjukkan kondisi
berbeda, karena nama Risma dan La Nyalla terus menguat. Saya mencermati,
intensitas Pak La Nyalla yang turun ke lapangan yang sangat tinggi membuat
tingkat pengenalannya terus melejit,” ujar Arifin seperti rilis kepada
depoliticanews, Sabtu (16/9).

Selain itu, dalam temuan LKPI, ada nama-nama lain yang terus muncul, meski
belum sekuat empat tokoh tersebut. Di antaranya adalah Bupati Banyuwangi
Abdullah Azwar Anas, Bupati Ngawi Budi Sulistyono, Kepala Inspektorat Jatim
Nurwiyatno, dan Waketum Partai Demokrat Nurhayati Assegaf.

Masih dari hasil survei LKPI, Khofifah mempunyai tingkat popularitas
tertinggi dengan angka 78,3 persen, lalu ditempel La Nyalla sebesar 78,1
persen, Risma 77,6 persen, dan Gus Ipul 77,4 persen. Nama-nama lain
menyusul seperti Anas 63,7 persen, Budi Sulistyono 61,3 persen, dan
Nurwiyatno 58,2 persen.

Adapun dari tingkat akseptabilitas atau penerimaan masyarakat terhadap
tokoh yang dianggap pantas memimpin Jatim, nama La Nyalla menyodok di angka
79,8 persen, disusul Risma 78,4 persen, Khofifah 77,8 persen, dan Gus Ipul
76,3 persen.

“Tingkat akseptabilitas ini relevan dengan keinginan masyarakat terhadap
sosok gubernur ke depan, yaitu mampu mengatasi permasalahan ekonomi
sebanyak 64,1 persen. Pak La Nyalla kan pengusaha, sehingga rakyat berharap
dia bisa menjadi solusi dari permasalahan ekonomi yang terus menghimpit
saat ini,” papar Arifin.

Adapun untuk tingkat elektabilitas atau keterpilihan, La Nyalla berada di
posisi tertinggi sebesar 23,1 persen, ditempel Risma 19,2 persen, Khofifah
18,3 persen, lalu keempat ada nama Gus Ipul sebesar 13,1 persen.

“Di lapangan saya menemukan fakta bahwa rakyat menginginkan perubahan,
karena Gus Ipul sebagai representasi petahana dinilai tidak bisa mewujudkan
kesejahteraan rakyat. Itulah mengapa nama-nama non-Gus Ipul terus menguat,”
ujarnya,

Survei digelar pada 25 Agustus sampai 5 September 2017 dengan mengunakan
sampel sebanyak 1769 responden yang ditarik dengan metode multistage random
sampling didasarkan pada populasi daftar pemilih tetap (DPT) di Jawa Timur
saat Pilpres 2014. Responden diwawancarai secara tatap muka dengan
toleransi kesalahan survei ini sebesar +/- 2,3 persen pada tingkat
kepercayaan 95 persen. (Amr)




Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *