Pedri: Keterangan Saksi Ahli Semakin Sudutkan Ahok

Depoliticanews – Perwakilan Pemuda Muhammadiyah yang melaporkan kasus
penodaan agama oleh Basuki Tjahaja Purnama atau Ahok, Pedri Kasman
mengatakan, persidangan Ahok yang menghadirkan saksi ahli telah memasuki
babak baru. Pada sidang sebelumnya dan sidang pada Senin (13/2), keterangan
para saksi ahli semakin menyudutkan Ahok.

Pedri mengatakan, di sidang pekan lalu yang menghadirkan ahli agama Hamdan
Rasyid dan ahli digital forensik dari Puslabfor Mabes Polri, AKBP Muhammad
Nuh Al-Azhar keterangan ahli mengarah pada membenarkan dakwaan kepada
terdakwa. Begitupun, saat sidang Senin kemarin yang menghadirkan saksi ahli
agama M. Amin Suma dan ahli bahasa Mahyuni.

“Prof Dr Mahyuni sebagai ahli bahasa menyatakan bahwa penggunaan kata
‘bohong’ bermakna negatif, dia menegatifkan makna positif dari kata lain,”
kata Pedri kepada depoliticanews, Selasa (14/2).

Ia merujuk perkataan saksi ahli kemarin, bahwa kata ‘bohong’ melekat pada
orang yang mengucapkan, orang yang mendengar dan sumber/alat kebohongan
itu. Dalam hal ini, surat Al Maidah 51 diposisikan Ahok sebagai sumber/alat
kebohongan itu.

Orang yang mengucapkannya berbohong dan yang mendengar dibohongi. Artinya,
jelas bahwa dari sisi bahasa Ahok menyebut ayat Alquran sebagai sumber/alat
kebohongan, para ulama dan dai yang menyampaikan berbohong.

Bahkan lebih keras, Mahyuni dengan analisis keilmuannya menyatakan
pernyataan Ahok itu ‘pasti disengaja’, karena setiap orang berbicara pasti
sudah punya konsep sebelumnya. Mental orang yang berbicara itu sudah
meyakini penggunaan kata yang dia ucapkan.

“Ahok sebenarnya melakukan persuasi agar orang memilih dia. Ahli bahasa ini
berkesimpulan dengan jelas bahwa ujaran Ahok benar-benar secara eksplisit
bermakna penistaan, penodaan, dan penghinaan,” ujar Pedri mengikuti
keterangan saksi ahli.

Di sisi lain, ahli agama yang dihadirkan pada sidang pekan lalu Hamdan
Rasyid juga tegas mengatakan, tafsir kata ‘Auliya’ dalam Surah Al Maidah 51
adalah ‘Pemimpin’. Jadi ummat Islam dilarang menjadikan Yahudi dan Nasrani
sebagai pemimpin.

Sekalipun dimungkinkan ada terjemahan lain seperti teman setia, penolong
dan sebagainya. Hamdan menegaskan, jika pun diartikan teman setia’, maka
itu lebih tegas lagi, menjadikan Yahudi dan Nasrani teman setia saja
dilarang apalagi jadi pemimpin.

M. Amin Suma juga berpendapat sama dengan saksi ahli agama ini. Namun,
titik poin penting yang ditekankan M Amin Suma adalah kasus ini sebenarnya
bukan penafsiran Al Maidah 51, tapi lebih pada pernyataan, “…jangan mau
dibohongi pakai surah Al Maidah 51…,” dan “….dibodohin gitu ya ….”

“Kalimat itu jelas diucapkan oleh Ahok dan tidak pernah ia bantah sejak
persidangan pertama sampai sekarang,” kata Pedri.

Terlebih, terang dia, ahli digital forensik dari Puslabfor Mabes Polri,
AKBP M. Nuh dengan sangat terang mengatakan bahwa video rekaman pidato Ahok
di Kepulauan Seribu tanggal 27 September 2016 itu asli 100 persen. Tidak
ada editan sama sekali, tidak ada pemotongan atau pun penambahan.

“Jadi kami melihat sejauh ini fakta-fakta yang terungkap di persidangan dan
keterangan ahli makin memperkuat pemenuhan unsur pidana delik penodaan
agama yang dilakukan Ahok sebagaimana Pasal 156a huruf a KUHP,” ujarnya.
(Amr)


TAG


Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *