Pembuat Nikahsirri.com Terinspirasi Budaya Lelang Perawan

Depoliticanews – Sejak kemunculannya, situs nikahsirri.com langsung menjadi
perhatian masyarakat. Terutama para netizen di media sosial. Bukan karena
prestasinya, laman itu eksis justru karena kontroversinya karena menawarkan
lelang perawan kepada laki-laki berduit yang menginginkan nikah siri.

Aris Wahyudi, pria asal Cilacap, 49 tahun silam itu mengungkapkan, ide
pembuatan situs nikahsirri.com berawal dari keprihatinannya terhadap
kemiskinan. Dia lantas berpikir keras, bagaimana bisa membantu orang-orang
yang berada di garis kemiskinan untuk mendapat hidup lebih baik.

Lantas, munculah ide membuat nikahsirri.com. Menurutnya, melalui media
sosial besutannya itu, keluarga yang kurang mampu dapat menggunakan
asetnya. Yakni, anak perempuan mereka sebagai pemasukan untuk keluarga
melalui sebuah lelang (yang katanya) halal.

“Idenya muncul karena kita ingin membuat sebuah program pengentasan
kemiskinan dengan konsep kemandirian menggunakan aset yang dimiliki
masing-masing keluarga kurang mampu itu,” kata Aris, Minggu (24/9).

Bapak tiga anak itu, bersama rekannya terinspirasi dengan sejarah zaman
penjajahan Belanda dulu. Saat itu, tradisi lelang perawan begitu marak dan
dikenal. Kalau istilah Jawanya, budaya itu disebut dengan buka kelambu.

“Kita juga belajar dari sejarah bahwa zaman dahulu ada budaya buka kelambu.
Sebenernya lelang perawan juga. Terjadi kalau nonton film sang penari,”
jelas dia.

Lebih lanjut dia menjelaskan, pola lelang perawan disebutnya masih terjadi
di Jawa Tengah. Tentu saja, dengan cara yang lebih tertutup. ’’Dari Zaman
Belanda sampai sekarang, di Jawa Tengah masih sering terjadi. Di Banyumas
tepatnya,” tambahnya.

Atas dasar itulah, dirinya akhirnya meneguhkan pendirian untuk tetap
menjalankan niatnya dalam mendirikan nikahsirri.com. Tujuannya? untuk
mengangkat kembali budaya masa lalu itu.

“Kemudian saya berpikir dengan rekan-rekan, sebenernya kita mengangkat
kembali budaya Indonesia. Yaitu, budaya lelang perawan istilahnya itu buka
kelambu,” pungkasnya. (Amr)




Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *