Pemuda NTB Datangi Rumah Mewah Steven

Depoliticanews – Sejumlah pemuda Nusa Tenggara Barat (NTB) mendatangi
kediaman mewah Steven Hadisurya Sulistiyo, seorang mahasiswa Indonesia
keturunan, di kawasan Kedoya, Kebun Jeruk, Jakarta Barat, beberapa waktu
yang lalu.

Namun, para pemuda tersebut mendapatkan fakta bahwa rumah Steven itu sudah
kosong selama 11 tahun. Padahal di KTP Steven, alamat yang tertera adalah
di rumah ini. Lantas, bagaimana dia mendapatkan KTP, padahal RT dan RW
setempat menyatakan tidak pernah memberikan Surat Pengantar pembuatan KTP
terhadapnya?

Seperti diketahui, nama Steven tiba-tiba jadi pusat perhatian setelah
penghinaannya terhadap Gubernur NTB di Bandara Changi, Singapore, menghiasi
pemberitaan.

Pada Minggu, 9 April 2017, sekitar pukul 14.30 waktu Singapore, Gubernur
NTB Tuan Guru Bajang Dr Muhammad Zainul Majdi bersama istri menuju counter
Batik Air di Bandara Changi Singapore dan ikut mengantre bersama penumpang
lainnya dengan tujuan Jakarta.

Beberapa saat mengantre, untuk keperluan menanyakan jadwal penerbangan,
gubernur yang akrab dengan sapaan Tuang Guru Bajang (TGB) keluar antrean
menemui petugas, sementara istri TGB Hj Erica Zaninul Majdi tetap dalam
antrean.

Namun saat TGB kembali ke barisan antrean di samping sang istri, tiba-tiba
ada seorang pemuda warga keturunan, marah-marah kepada TGB karena mengira
TGB telah menyerobot antrean.

Walau sudah dijelaskan bahwa TGB sejak awal sudah dalam barisan itu bersama
istrinya, juga diingatkan bahwa TGB adalah Gubernur NTB, Steven tetap
memaki-maki, bahkan mulai melakukan penghinaan dengan kata-kata rasis
kepada TGB yang adalah seorang Hafidz Al-Qur’an dan cucu ulama besar
pendiri Nahdatul Wathan TGH M Zainuddin Abdul Madjid.

“Mereka pikir itu bukan istri saya awalnya. Malu mungkin lalu
mengumpat-umpat. Kami mengalah pindah antrean, masih terus diumpat. Saya
adukan ke polisi setiba di Jakarta,” jelas TGB ke media beberapa waktu lalu.

Karena terus diumpat dengan kata-kata kasar bahkan dengan hinaan yang rasis
dengan sebutan “Dasar Indo, dasar Indonesia, Dasar pribumi tiko”, yang
belakangan diketahui TGB bahwa “tiko” adalah singkatan dari tikus kotor
yang merupakan istilah penghinaan untuk pribumi Indonesia, maka TGB
akhirnya melaporkan Steven ke polisi setelah mendarat di Bandara
Soekarno-Hatta Jakarta.

“Di Polres bandara pun mereka masih mengintimidasi petugas. Teriak-teriak
di dalam kantor sampai kemudian diusir keluar oleh seorang petugas. Setelah
tahu (Gubernur) pun tak berkurang arogansinya. Saya membayangkan bagaimana
mengenaskannya saudara-saudara kita yang kebetulan bekerja pada mereka,”
kata TGB.

Di Polres Bandara Soekarno-Hatta akhirnya Steven, yang belakangan diketahui
anak seorang pengusaha tersebut, membuat surat pernyataan maaf kepada TGB
atas penghinaan yang telah ia lakukan. Surat permohonan maaf bermeterai itu
ditandatangani Steven. Dalam surat itu, Steven mengakui melayangkan
kata-kata kasar kepada TGB.

Meski TGB sudah menerima maaf Steven, namun para pemuda NTB itu berupaya
mengecek kediamannya. Namun, seperti terekam dalam Video berbagi Youtube
berdurasi 3 menit 42 detik itu, perwakilan pemuda NTB yang didampingi
polisi tersebut menemukan fakta: alamat rumah yang tertera di KTP Steven
itu sudah kosong sejak 2007. Steven tidak pernah mendiami rumah tersebut.

Menurut keterangan RT maupun RW setempat, mereka tidak pernah memberikan
Surat Pengantar kepada Steven untuk pembuatan KTP, sesuai dengan alamat
yang tertera di KTP milik Steven.

Ini menjadi tanda tanya besar, jika Steven tak pernah memperoleh Surat
Pengantar pembuatan KTP, lalu bagaimana dia memperoleh KTP tersebut dengan
Mudahnya?

Siapakah Steven?
Siapakah Orang Tua Steven?

Dari video yang diunggah di Youtube milik Rio Ramabaskara itu tampak
beberapa pemuda NTB mendatangi sebuah rumah mewah yang berada di kawasan
Kedoya, Kebon Jeruk, Jakarta Barat. Mereka menyambangi kediaman Steven
berdasarkan KTP yang diberikan Steven saat menulis pernyataan maaf terhadap
Gubernur NTB.

Didampingi petugas kepolisian, para pemuda NTB itu mendapatkan kenyataan,
berdasarkan keterangan tetangga bahwa rumah mewah tersebut sudah kosong
selama 11 tahun.

“Kami mendatangi kediaman saudara Steven pelaku rasis sesuai alamat KTP
yang bersangkutan, ternyata sudah 11 tahun tidak ditempati. Bahkan polisi
mengaku tidak mengetahui keberadaannya,” kata salah seorang pemuda NTB itu.

“Keberadaan kami di sini untuk tabayun atau klarifikasi bahwa apa
sebenarnya yang mendasari Steven ini dengan lantang berkata dengan empat
hal itu yakni Indo, Indonesia, Pribumi dan Tiko,” ujar pemuda lainnya. (Amr)




Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *