Pengamat: Hanya Ada Dua Nama yang Akan Bertarung di Pilgub Jatim 2018

Depoliticanews – Figur sentral hanya ada dua nama diprediksi bakal
bertarung di pilgub Jatim 2018. Mereka adalah Wagub Jatim Saifullah Yusuf
(Gus Ipul) dan Mensos RI Khofifah Indar Parawansa. Mengapa hanya dua nama?

“Mereka inilah yang punya pengalaman maju dalam pilgub Jatim sebelumnya.
Mereka berdua juga yang punya akses ke publik dan muncul di ingatan publik.
Sama-sama tidak punya partai dan keduanya merupakan petinggi NU. Gus Ipul
ketua PBNU, Khofifah Ketua Umum PP Muslimat NU empat periode,” kata
pengamat politik Universitas Airlangga Surabaya, Priyatmoko, Rabu (26/4).

Menurut dia, Khofifah sebagai Mensos sangatlah strategis dan menguntungkan
dirinya untuk mengakses ke publik dengan sejumlah program bantuan. “Tetapi
belum ada sejarahnya seorang menteri melepas jabatan untuk maju pemilihan
gubernur. Belum ada sejarahnya. Yang jelas ini high risk atau risikonya
tinggi sekali. Dan, perhitungannya harus menang jangan sampai kalah lagi,”
ujarnya.

Gus Ipul dan Khofifah adalah sama-sama petinggi NU. Untuk itu, pilgub Jatim
2018 adalah momentum bagi NU. Pertarungan pada tahun 2018 tidaklah sama
dengan pilgub 2008 dan 2013. “Pada 10 tahun terakhir kiai-kiai pendukung
Khofifah dan Gus Ipul berkurang. Khofifah kehilangan Kiai Hasyim Muzadi.
Gus Ipul kehilangan beberapa kiai, seperti Kiai Idris Marzuki dan lainnya,”
imbuhnya.

Di luar dua nama kandidat itu masih spekulatif. Seperti nama Walikota
Surabaya Tri Rismaharini, Bupati Banyuwangi Azwar Anas, mantan Bupati
Lamongan Masfuk, Bupati Bojonegoro Kang Yoto dan anggota DPR RI Hasan
Aminuddin.

“Pertarungan pilkada nanti ini lebih tertumpu pada ketokohan seseorang.
Tidak butuh sekadar popular, tapi calon itu bisa membiayai dirinya sendiri.
Pilgub 2018 itu berdekatan dengan Pemilu 2019. Bisa jadi ajang pemanasan
partai-partai,” tandasnya.

Dia menilai peran dan posisi Pakde Karwo sebagai Ketua DPD Partai Demokrat
Jatim dan Gubernur Jatim sangat krusial. Pakde harus bisa menggaransi Gus
Ipul memperoleh kendaraan partai. “Jadi pilgub 2018 itu bukan incumbent
melawan penantang. Ini karena Pakde kan tidak maju lagi. Gus Ipul itu
setengah incumbent. Bisa disebut incumbent penuh, jika Gus Ipul didukung
Pakde dan Demokrat maju 2018,” tegasnya.

Dia memprediksikan maksimal calon ada tiga pasangan. Khofifah kemungkinan
didukung Golkar, PAN, NasDem ditambah PPP. Kalau Gus Ipul bisa lewat PDIP
atau PKB. Partai-partai lainnya seperti Demokrat, Gerindra, PKS dan Hanura
bisa memunculkan koalisi baru mengusung calon baru.

“Jatim ada 10 partai yang memiliki kursi di DPRD. Tapi hanya PKB yang bisa
majukan calon tanpa koalisi. Veto keputusan ada di DPP partai
masing-masing. Jarang terjadi koalisi dimulai dari awal karena memiliki
visi misi yang sama dan mencari orang. Tapi kebanyakan partai menunggu
dilamar calon. Ini yang aneh di Jatim. Partai banyak tapi menghasilkan
calon kok susah, ada apa? Buat apa multi partai?” tukasnya.

Bagaimana dengan figur Risma yang disebut-sebut bakal running juga? “Gaya
Risma ini mirip dengan Ahok. Yang ditampilkan marah dan ketegasannya dalam
memimpin daerah. Risma ini menarik kalau diusung PDIP. Tapi belum tentu
berhasil, kalau Risma ditarik partai di luar PDIP. Risma leading di isu-isu
publik yang ditulis media. Tapi pemilih tradisional tidak kuat ke Risma,
malah ke Gus Ipul dan Khofifah. Pilihannya Gus Ipul atau Khofifah adalah
menggandeng figur dari kawasan barat atau mataraman,” pungkasnya. (Amr)




Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *