Pengamat: Kiai NU Nilai Gus Ipul Lebih Bermanfaat Untuk Jatim Satu

Depoliticanews – Aksi dukung mendukung sejumlah kiai Nahdlatul Ulama (NU)
di Jatim terhadap salah satu kandidat calon gubernur dari kader NU memasuki
babak baru. Sebab kalau sebelumnya ribuan kiai menyatakan dukungan terhadap
Saifullah Yusuf sebagai satu-satunya kader NU yang layak didukung di Pilgub
Jatim 2018, sekarang justru berbalik memberikan dukungan ke Khofifah Indar
Parawansa untuk maju di Pilgub Jatim.

Yang menarik, apa yang menjadi pertimbangan (reasoning) sejumlah kiai
memberikan dukungan terhadap kader terbaik NU dan sejauh mana pilihan
politik kiai tersebut bakal diikuti oleh masyarakat khususnya para santri
dari kaum nahdliyin. Artinya, apakah dukungan besar kiai secara otomatis
bisa menjadi jaminan kandidat yang didukung bakal memenangkan Pilgub Jatim
mendatang, mengingat realitas politik mayoritas masyarakat Jatim adalah
warga NU.

Menurut pengamat politik dari Bangun Indonesia, Agus Mahfud Fauzi, maraknya
kembali aksi dukung mendukung sejumlah kiai NU di Jatim terhadap kandidat
Cagub dari kader terbaik NU itu sejatinya merupakan bentuk kepedulian yang
tinggi terhadap tokoh NU yang memiliki jabatan publik supaya ada pembagian
peran untuk kepentingan jam’iyah yakni warga NU.

“Itu bukan memperebutkan dukungan kiai tapi justru para kiai ingin
membangun persatuan dan kesatuan Jamíyah Nahdliyin mengedepankan
kemanfaatan bagi warga NU,” ujar Agus Mahfud Fauzi seperti rilis kepada
depoliticanews, Kamis (10/8).

Lebih jauh dosen FISIP Unesa Surabaya ini menjelaskan bahwa para kiai NU
menilai Gus Ipul sapaan akrab Saifullah Yusuf lebih besar manfaatnya untuk
Jatim satu (Gubernur). Sedangkan Khofifah Indar Parawansa, manfaatnya lebih
besar akan dirasakan warga NU jika dia tetap menjadi Menteri Sosial RI.

“Pertimbangan kiai kampung mengalihkan dukungan ke Gus Ipul, saya kira juga
karena mengedepankan azas kemanfaatan bagi warga NU,” jelas mantan
komisioner KPU Jatim ini.

Sementara itu Surokim peneliti Surabaya Surver Center (SSC) menyatakan
hasil survey yang dilakukan SSC bulan lalu menunjukkan bahwa jumlah pemilih
rasional (memilih atas dasar preferensi mandiri) di Jatim mengalami
peningkatan signifikan mencapai 30,30%.

Sedangkan aktor yang paling berpengaruh menjadi rujukan pilihan masyarakat,
kata Surokim masih ditempati kiai dan ulama yang mencapai 20,90%, disusul
tokoh politik 16,6%, tokoh terpelajar 9,1%, tokoh lokal 8,3%, tokoh
pemerintahan 6,9%, tokoh bisnis 3,8%, tokoh pemuda 2,5% dan lainnya 0,4%
serta yang menjawab tidak tahu mencapai 1,4%. “Kiai dan ulama masih menjadi
patron utama jika gabung dengan preferensi individu bisa mencapai 51%,”
terangnya.

Kendati peran kiai dan ulama sangat besar, namun dukungan kiai kampung di
wilayah pedesaan dinilai Surokim masih cair dan belum solid mendukung salah
satu diantara Gus Ipul atau Khofifah. “Cairnya dukungan kiai kampung itu
juga diimbangi dengan meningkatnya pemilih kelas menengah di kalangan NU
yang mulai kritis dan independen, jumlahnya mencapai 30 %,” ungkap dosen
FISIP Universitas Trunojoyo Madura ini.

Meningkatnya pemilih kelas menengah NU, kata Surokim tak lepas dari
menguatnya generasi natif digital yang akan menjadi pemilih pemula (Z) dan
generasi muda yang sudah 3 kali ikut Pilkada (Y) dalam peta politik Jatim.
“Dari 30% pemilih menengah NU itu, yang sudah memantapkan pilihan hanya
28,10%. Kemudian yang masih mungkin berubah pilihan 48,4% dan yang masih
belum menentukan pilihan 23,50%. Artinya, hampir 71% masih liar dab fluid
untuk diperebutkan,” bebernya.

Dinamika pemilih kelas menengah NU juga dipengaruhi karena faktor
pendidikan dimana mayoritas mereka sudah mengenyam pendidikan SMA/SMK serta
Perguruan Tinggi. “Dinamika di kelas menengah NU ini juga akan membawa
perubahan di level grassroot yang selama ini cenderung Sami’na Wa Atho’na
terhadap dawuh kiai. Ini juga dapat membahayakan jangkar kultural NU,”
tambah Surokim.

Ia juga meyakini kalau kedua kader terbaik NU yaitu Gus Ipul dan Khofifah
sama-sama maju di Pilgub Jatim maka kontestasi Pilgub Jatim 2018 bakal seru
dan kiai masih menjadi aktor berpengaruh paling tinggi.

Sementara untuk pemilih kelas menengah NU, lanjut Surokim, Gus Ipul akan
leading pada generasi Z karena selama ini pergerakan Wagub Jatim ke pemilih
pemula sangat intens. Namun untuk generasi Y khususnya gender perempuan
sepertinya cenderung memilih Khofifah.

“Kalau melihat tipikal mereka yang dinamis, reaktif, senang berbagi dan
cepat berubah serta rasional menginginkan perubahan maka pilihan itu tidak
bisa serta merta bisa fix. Pemilih menengah NU masih akan menunggu
program-program yang ditawarkan oleh kedua calon dari kader NU,” kata
Surokim.

Faktor lain yang cukup menentukan siapa yang unggul antara Gus Ipul dan
Khofifah di Pilgub Jatim mendatang, yakni kawasan rawan kecurangan Pemilu
apakah bisa berlangsung fair dan demokratis.

“Popularitas, Elektabilitas dan Akseptabilitas kedua calon itu bedanya
sangat tipis, sehingga faktor yang harus dipertimbangan menjadi kompleks.
Segala cara yang sah maupun tak sah pasti akan dikerahkan untuk mencari
kemenangan, itu yang sangat kami khawatirkan,” pungkasnya. (Amr)




Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *