Pengamat: Strategi Borong Partai Kembali Dilakukan Gus Ipul

Depoliticanews – Strategi borong partai kembali dilakukan calon incumbent
Saifullah Yusuf atau Gus Ipul untuk bisa mulus maju di pertarungan Pilgub
Jatim 2018.

Seperti diingat pada Pilgub Jatim 2013 pasangan Pakde Karwo-Gus Ipul
memborong partai untuk menjadi pengusungnya yakni Partai Demokrat, Golkar,
PAN, PKS, Gerindra, PPP, Hanura, PKNU, PDS, PBR dan 22 partai non parlemen.
Strategi itu pula yang hampir membuat lawan politiknya Khofifah Indar
Parawansa kesulitan dalam mendapatkan kendaraan untuk bisa maju dalam
pertarungan Pilgub Jatim.

Menurut Agus Mahfud Fauzi, pengamat Politik Unesa, strategi yang dilakukan
calon incumbent saat ini merupakan pengembangan strategi 2013.

“Saat itu PKB menjadi musuh besar Pakde Karwo-Gus Ipul dan kini Gus Ipul
mampu mengawali perolehan dukungan partai dari PKB,” ujarnya kepada
depoliticanews, Senin (5/6).

Tapi hal itu tidak menjadikan posisi Gus Ipul aman, dikarenakan sejarah PKB
bisa dengan mudah dan cepat merubah keputusannya.

“Contohnya tagline Pak Halim Holopis Kuntul Baris yang sudah satu tahun
lebih beredar di seluruh daerah di Jatim dengan biaya yang tidak sedikit.
Bahkan saat surat kyai sepuh keluar PKB masih menegaskan komitmennya
mengusung Pak Halim dalam pertarungan Pilgub Jatim. Menariknya dalam
hitungan hari, Pak Halim sudah melakukan safari politik mengantarkan Gus
Ipul ke sejumlah partai,” kata dosen sosiologi politik Unesa ini.

Fakta itu menjadi salah satu bukti keputusan PKB yang sangat cepat berubah,
dan kemungkinan besar pula di detik-detik terakhir pertarungan Pilgub Jatim
keputusan tersebut akan berubah. “Apalagi saat ini belum ada hitam di atas
putih atau surat rekomendasi dari PKB mengusung Gus Ipul,” ungkap mantan
komisioner KPU Jatim ini.

Selain PKB, saat ini Gus Ipul juga sudah mendaftarkan diri ke DPD PDIP
Jatim. Bahkan di tingkat DPD PDIP dukungan kepada Gus Ipul sudah selesai.
Tapi sekali lagi, sejarah tidak bisa dilupakan.

Pada Pilgub 2008 Pakde Karwo memenangkan konvensi Cagub yang digelar oleh
DPD PDIP Jatim dengan mengantongi 20 lebih dukungan dari DPC PDIP, tapi
keputusan final rekomendasi DPP jatuh pada Sujipto sebagai cagub dari PDIP.
Tidak berhenti disitu, pada pilgub 2013 komunikasi Pakde Karwo dengan DPD
PDIP Jatim sangat intensif, namun rekomendasi DPP PDIP jatuh pada Bambang
DH-Said.

“Dari sejarah ini pula kemungkinan besar akan kembali terjadi di Pilgub
Jatim 2018 yakni rekomendasi DPP PDIP tidak jatuh pada Gus Ipul,” tandasnya.

Agus Mahfud Fauzi, yang juga Direktur Konsultan Politik Bangun Indonesia
ini menegaskan, dari sejarah pertarungan Pilgub Jatim tersebut, untuk
kemungkinan Pilgub Jatim 2018 calon tunggal sangat kecil, apalagi belum ada
rekomendasi hitam diatas putih, artinya berbagai kemungkinan masih
berpeluang besar terjadi, apalagi perubahan dinamika politik sangat cepat.

Harus diketahui pula, lanjutnya, dalam surat kyai sepuh tidak ada nama Gus
Ipul sebagai calon yang didukung, dalam surat itu hanya ditegaskan NU untuk
bersatu dan NU dilibatkan dalam menentukan nama calon.

“Artinya banyak persepsi yang bisa dibangun dari surat tersebut dan
perubahan Terkait nama calon yang akan didukung masih kemungkinan besar
terjadi,” pungkasnya. (Amr)




Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *