Penggunaan Anggaran Tak Produktif, Hutang Pemerintah Semakin Bertambah

Depoliticanews – Total hutang pemerintah Indonesia terhitung sampai 31 Mei
2017 mencapai Rp 3.672,43 triliun. Jumlah ini meningkat Rp 5 triliun dari
April 2017.

Enny Sri Hartati selaku peneliti INDEF menilai, penyebab utama hutang
pemerintah bertambah adalah penggunaan anggaran yang kurang produktif.

Meski penambahan Rp 5 triliun bagi pemerintah bukan nilai yang besar, tapi
paling tidak penggunaannya harus jelas.

“Jadi utang itu untuk apa? Produktif atau tidak? Utang itu bisa refinancing
atau tidak? kalau tidak bisa pasti akan bermasalah,” ucap Enny, Kamis
(29/6).

Meski pemerintah menyebut penambahan Rp 5 triliun itu untuk membiayai
defisit APBN dalam pembangunan infrastruktur. Namun Enny justru tidak
melihat demikian.

Menurut dia, ada kesalahan dalam pengelolaannya. Padahal hutang tersebut
digunakan untuk infrastruktur jangka menengah dan jangka panjang.

Enny pun mengaku heran, bagaimana ingin membangun infrastruktur jika
industri dalam negeri terpuruk. Tak terkecuali industri yang berhubungan
dengan infrastrukur.

“Persoalannya, defisit kita bertambah. Itu menyebabkan utang tidak
produktif. Semen over supply, industri baja pertumbuhannya negatif,
industri logam pertumbuhan negatif. Itu kan tidak mungkin sebenarnya,”
jelas dia.

Paling tidak lanjut Enny, pembangunan dalam jangka pendek dapat menyerap
tenaga kerja, sehingga dapat memperbaiki daya beli masyarakat. Selain itu,
pembangunan infrastruktur juga harus bisa menyerap produk dalam negeri
seperti semen, baja, dan besi.

“Tapi kalau yang digunakan semua dari impor, ya masalah. Tidak mendorong
(perekonomian), malah sekarang pengusaha mengeluh. Ekonomi tidak jalan,
berarti ada anomali, ada yang salah,” pungkasnya. (Amr)




Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *