Petani Mengaku Tak Nikmati Tingginya Harga Cabai

Depoliticanews – Petani di Kabupaten Jember, Jawa Timur mengaku tidak
menikmati tingginya harga cabai rawit di pasaran yang menembus kisaran Rp
90.000 hingga Rp 100.000 per kilogram.

“Petani cabai tetap tidak diuntungkan, meskipun harga cabai melambung
tinggi di pasaran,” kata Imam Suyuti, salah seorang petani cabai asal
Kecamatan Ambulu, Kabupaten Jember, Minggu (15/1).

Menurutnya harga cabai rawit di pasaran tidak sepenuhnya dirasakan para
petani karena harga cabai di tingkat petani berkisar Rp 50.000 hingga Rp
60.000 per kilogram, sedangkan harga di sejumlah pasar tradisional di
Jember sempat menembus Rp 100.000 per kilogram.

“Sebenarnya dengan harga cabai sebesar Rp 50.000 hingga Rp 60.000 per
kilogram, petani sudah mendapatkan untung yang cukup banyak, namun hasil
panen cabai tahun ini merosot tajam, sehingga kami justru merugi,” tuturnya.

Ia mengatakan hasil panen petani menurun tajam hingga 10 kali lipat
dibandingkan pada tahun-tahun sebelumnya karena biasanya dengan lahan 1/4
hektare miliknya bisa mendapatkan cabai rawit hingga 2 hingga 3 kuintal.

“Untuk musim panen tahun ini produksi cabai di lahan 1/4 hektare tersebut
hanya bisa memanen sekitar 20 kilogram hingga 60 kilogram saja akibat cuaca
ekstrem yang menyebabkan penyakit pada tanaman cabai,” ucap petani yang
kini jadi legislator di DPRD Jember itu.

Imam menjelaskan penurunan panen cabai tersebut karena cuaca yang tidak
membaik sepanjang tahun 2016, sehingga banyak tanaman cabai yang terkena
penyakit dan mati hingga menyebabkan gagal panen.

“Seandainya tanaman itu tetap bertahan hidup, maka tidak bisa berbuah
dengan baik dan normal karena banyak cabai yang buahnya rusak akibat hujan
yang ekstrem,” katanya.

Menurutnya, pihak yang paling diuntungkan atas lonjakan harga cabai rawit
adalah para tengkulak karena disparitas harga cabai di tingkat petani dan
pasar mencapai 35 hingga 40 persen.

“Ada selisih harga yang cukup signifikan harga cabai di tingkat petani
dengan di pasaran, sehingga yang diuntungkan mahalnya harga cabai adalah
para tengkulak yang meraup keuntungan besar,” ujarnya menambahkan.
Sementara Ketua Asosiasi Agribisnis Cabai Indonesia (AACI) Jawa Timur Edi
Suryanto mengatakan banyak lahan petani cabai yang gagal panen akibat musim
hujan sepanjang tahun 2016, sehingga tidak sedikit petani yang merugi.

“Dari luas lahan 2.500 hektare yang ditanami cabai merah besar di Jember,
namun yang bisa dipanen hanya sekitar 20 persen saja karena sebanyak 80
persen terserang penyakit hingga gagal panen,” tuturnya. (Amr)




Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *