Pidato Francesco Totti di Akhir Karirnya Bersama Roma

Depoliticanews – Francesco Totti semalam secara resmi telah mengakhiri karirnya bersama AS Roma dan memutuskan untuk gantung sepatu. Terjadi suasana yang luar biasa emosional di Stadio Olimpico setelah akhir pertandingan melawan Genoa karena seluruh pemain, jajaran pengurus, dan tentu saja puluhan ribu fans yang memadati stadion menumpahkan air mata ketika Roma kehilangan sang raja yang telah memberikan segalanya selama ini.

Bicara Roma memang tak bisa lepas dari nama Totti dan ketika membicarakan Totti maka tidak bisa lepas pula dari AS Roma. Keduanya seolah menjadi satu ikatan yang tak terpisahkan dan momen itu benar-benar terlihat semalam di Olimpico ketika sang legenda memainkan laga terakhirnya bersama satu-satunya klub yang pernah ia bela. Tangis Romanisti disana juga menjadi tangis publik sepakbola Italia yang kembali kehilangan salah satu pemain terbaiknya karena faktor usia.

“Momen yang tidak pernah saya inginkan ini akhirnya datang juga. Dalam beberapa hari terakhir ada banyak hal yang dibicarakan mengenai saya dan tentunya semuanya bernada bagus. Kalian semua berada di belakang saya, selalu memberikan dorongan di masa sulit, dan itulah kenapa saya mengucapkan terima kasih pada kalian semua.

Saya menangis dan ini sungguh gila. Kamu tidak bisa melupakan begitu saja masa 25 tahun seperti ini. Saya berterima kasih pada semuanya meski ini tidak mudah bagi saya. Saya bercerita kepada istri saya tentang apa arti semua ini. Saya berterima kasih pada ibu dan ayah saya, saudara, keluarga, dan teman-teman. Terima kasih untuk istri dan ketiga anak saya. Saya ingin memulai dari sini karena saya tidak yakin bisa mengakhirinya.

Tidak mungkin menjelaskan waktu selama 28 tahun hanya ke dalam beberapa kalimat. Saya ingin mengungkapkannya melalui lagu atau puisi namun saya tidak ahli dalam hal itu. Saya mencoba mengekspresikan semuanya dengan kaki saya karena hanya dengan cara itu semua terasa lebih mudah. Sepakbola adalah mainan saya sejak kecil dan sampai sekarang saya masih memainkannya. Tapi dalam titik tertentu, kamu harus menyadari bahwa waktu itu telah tiba.

Itulah kenapa saya membenci waktu. Sama halnya dengan momen pada 17 Juni 2001 (saat Totti membawa Roma meraih scudetto) dimana saya ingin wasit segera meniup peluit akhir pertandingan dan saya masih merinding jika mengingat momen tersebut. Mulai esok, saya akan menjadi pria biasa. Saya harus melepas celana dan sepatu ini dan mulai sekarang saya tak bisa merasakan aroma rumput, menikmati paparan sinar matahari di wajahmu, adrenalin yang ada, dan juga kepuasan ketika melakukan selebrasi.

Saya bertanya pada diri sendiri dalam beberapa bulan terakhir kenapa saya harus terbangun dari mimpi ini. Ketika masih kecil dan saat kamu sedang bermimpi indah, kemudian datang ibumu yang membangunkanmu untuk pergi ke sekolah. Kamu mencoba untuk tidur lagi namun mimpi itu sudah tidak sama lagi. Kali ini bukanlah mimpi lagi, tapi realita. Saya mendedikasikan surat ini kepada anak-anak yang mendukung saya, kepada mereka yang tumbuh bersama saya dan sekarang mungkin sudah menjadi ayah.

Saya suka berpikir bahwa karir saya adalah kisah indah yang bisa diceritakan dan ini adalah bagian terburuknya. Sekarang ini semua sudah berakhir meski harus saya katakan bahwa sebenarnya saya masih belum siap dan tidak akan pernah siap. Maafkan saya jika dalam periode ini saya tidak menggelar konferensi pers atau mengklarifikasi apa yang terjadi. Ini bukan rasa takut yang sama ketika kamu berada di depan gawang lawan untuk mengambil tendangan penalti. Kali ini saya bahkan tidak bisa melihat ada cahaya dari sela jaring gawang itu.

Jadi izinkan saya untuk merasa sedikit takut. Kali ini saya sangat butuh bantuan dan kehangatan kalian seperti yang selalu kalian tunjukkan pada saya. Dengan perhatian kalian, saya akan bisa membuka lembaran baru dalam hidup saya. Saya berterima kasih pada rekan setim, pelatih, direktur, presiden, dan semua yang bekerja dengan saya selama ini. Fans, Curva Sud, yang selalu menjadi referensi bagi kita semua, Romans, dan Romanisti.

Lahir sebagai Roman dan Romanisti adalah sebuah sesuatu yang istimewa. Menjadi kapten tim ini adalah sebuah kehormatan. Kalian semua akan selalu ada dalam hidup saya. Mungkin saya sudah tidak bisa bersenang-senang lagi dengan kaki saya, tapi hati saya akan selalu bersama kalian.

Sekarang saya akan menuruni tangga tersebut, memasuki kamar ganti yang dahulu pernah menyambut saya saat masih mudah dan sekarang saya meninggalkannya sebagai seorang pria. Saya senang dan bangga bisa 28 tahun membela Roma. Saya cinta kalian!”




Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *