Pilgub Jatim 2018, Pakde Karwo Jadi Faktor Kunci

Depoliticanews – Hampir 10 tahun memimpin Jatim, Soekarwo (Pakde Karwo)
menjadi faktor kunci lain dalam kontestasi pemilihan gubernur (Pilgub)
Jatim 2018 mendatang. The Pakde Karwo factor merupakan variabel politik
yang tak mungkin dinafikan siapa pun. Hal ini dikatakan oleh pengamat
politik Universitas Airlangga (Unair), Priyatmoko, M.Si.

“Faktor Pakde Karwo sangat menentukan di tengah minimnya tokoh yang
dijagokan sebagai cagub. Saya juga heran banyak parpol kok stok tokohnya
sebagai cagub justru minim di Jatim,” kata Priyatmoko, Senin (1/5).

Ada dua tokoh yang disebut-sebut memiliki kans kuat sebagai cagub Jatim
yakni Saifullah Yusuf (Gus Ipul) dan Khofifah Indar Parawansa. Keduanya
tokoh NU dan memiliki jabatan politik bersifat strategis. Gus Ipul kini
menduduki jabatan Wagub Jatim 2 periode, sedang Khofifah menjabat Menteri
Sosial (Mensos). Keduanya tak berpartai secara formal dan struktural.

Priyatmoko mengatakan, Pakde Karwo selain sebagai gubernur Jatim 2 periode
masa jabatan, sekaligus Ketua DPD Partai Demokrat. Jumlah kursi Demokrat di
DPRD Jatim cukup signifikan di bawah PKB, PDIP, dan Partai Gerindra.
Demokrat sebagai partai tengah yang bisa merajut koalisi politik dengan
partai lain untuk menyorongkan calon.

“Yang penting dicatat dalam konteks ini, selama hampir 10 tahun
kepemimpinan Pakde Karwo di Jatim, dia mampu merangkul dan mengayomi semua
parpol dalam bingkai komunikasi politik bersifat informal. Sehingga membuka
peluang dilakukan proses pengambilan keputusan model setengah kamar.
Koalisi antarparpol di Jatim tak diformalkan seperti Sekber Parpol Koalisi
di era Presiden SBY kedua, tapi di Jatim implementasinya lebih informal.
Sehingga sekat-sekat perbedaan politik tak kelihatan menonjol,” jelas
Priyatmoko.

Model kepemimpinan dan komunikasi politik yang dilakukan Pakde Karwo itu,
menurut Priyatmoko, berdampak signifikan terciptanya iklim politik kondusif
di Jatim selama dipimpin Pakde Karwo. Selain itu, Pakde Karwo merupakan
tipologi pemimpin yang mau mendengar input dan alternatif pemikiran dari
counter part politiknya, seperti pimpinan dan anggota DPRD dan elite parpol
di Jatim.

“Yang menarik, Pakde Karwo seringkali menjawab masukan counter part
politiknya dengan indeks dan pendekatan kuantitatif. Jarang sekali respon
disampaikan dengan retorika politik. Menurut saya, Pakde Karwo itu meski
berlatar sarjana hukum, namun penguasaan statistik dan data kuantitatifnya
kuat. Ini yang menarik, sehingga pandangan Pakde Karwo seringkali sulit
dibantah politikus,” papar Priyatmoko.

Selama 2 periode menduduki jabatan gubernur Jatim, kata Priyatmoko, tentu
saja Pakde Karwo memiliki jaringan politik sangat kuat di provinsi
berpenduduk 38 juta jiwa. Lebih-lebih dia sekaligus ketua Partai Demokrat
Jatim. “Karena itu, saya berani katakan bahwa dukungan Pakde Karwo itu
menentukan cagub yang berpeluang menang di Pilgub Jatim 2018,” ujarnya.

Kira-kira siapa bakal cagub yang didukung Pakde Karwo? Priyatmoko
mengatakan belum bisa memastikan. Dinamika politik di Jatim dan nasional
terus berkembang terkait pilkada serentak 2018, yang akan diikuti 117
kabupaten/kota dan provinsi di seluruh Indonesia. Pilkada serentak 2018
juga berlangsung di 3 provinsi berpenduduk besar di Pulau Jawa: Jabar,
Jateng, dan Jatim. Di mana dari ketiga provinsi ini, diperkirakan jumlah
pemilih lebih dari 90 juta pemilih. “Tak mudah memutuskan masalah ini,”
tukasnya.

Dengan modal pernah 2 kali memenangkan Pilgub Jatim secara langsung
(2008/2009 dan 2013), Pakde Karwo adalah politikus matang dan berpengalaman
memenangkan kontestasi politik yang berlangsung sengit dan ketat. Pakde
Karwo juga memiliki basis elektoral yang jelas, segmented, dan tradisional.
Yang bersangkutan selama ini drepresentasikan sebagai figur Mataraman
berwajah Nasionalis yang bisa diterima kalangan pemilih santri (Tradisional
maupun Modernis) di Jatim.

“Modal politik Pakde Karwo luar biasa, sehingga tak heran kalau
diperebutkan siapa pun calon di Pilgub Jatim 2018. Apalagi, dalam pilkada
selama ini memperlihatkan mesin partai kurang mendukung dan kurang
bergerak. Partisipasi dan dukungan politik itu ditentukan kapasitas dan
ekspektasi politik terhadap tokoh (figur),” pungkasnya. (Amr)




Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *