Pilgub Jatim, PKB Dikhawatirkan Malah Condong ke Khofifah

Depoliticanews – Partai Kebangkitan Bangsa (PKB) mulai melakukan berbagai
langkah strategis guna menghadapi Pemilihan Umum dan Pemilihan Presiden
2019. Salah satu fokus PKB untuk Pemilu 2019 adalah pemenangan Pilkada
serentak 2018.

Sebagai bekal 2019, PKB melalui Desk Pilkada DPP PKB akan ikut dalam 171
Pilkada 2018. Dari seluruh Pilkada itu PKB akan memfokuskan kemenangan di
114 daerah.

Ketua Desk Pilkada DPP PKB Daniel Johan mengatakan, pihaknya memandang
Pilkada 2018 tersebut sangat penting. Sebab target tersebut sebagai
persiapan menghadapi Pemilu 2019. Karena itu PKB akan berusaha mendudukkan
50 kader asli PKB menjadi Gubernur/Wakil Gubernur, Bupati/Wakil Bupati dan
Walikota/Wakil Walikota.

Menanggapi langkah PKB ini, Ketua Harian DPP Partai Priboemi, Bambang
menilai, manuver partai politik berlambang bola dunia berbintang sembilan
ini bisa jadi menjadi target ampuh. Namun dibalik itu, akan menyulitkan
bagi bakal calon kepala daerah non kader yang sudah terlanjur ‘kampanye’
maju melalui PKB, salah satunya adalah bakal calon gubernur Jawa Timur,
Saifullah Yusuf (Gus Ipul).

“Saya sudah mencermati maklumat yang dikeluarkan PKB melalui rilis Desk
Pilkada PKB yang disebarkan ke sejumlah media. Saya lihat PKB
memprioritaskan kader aslinya untuk dicalonkan menjadi kepala daerah. Lalu
memprioritaskan perempuan dan pendaftaran terbuka dengan proses seleksi dan
survei. Dari situ pikiran saya kok langsung tertuju pada Saifullah Yusuf.
Sebab sebagai mantan orang dekat Gus Dur, Saifullah Yusuf pernah menjadi
anggota DPR RI dari Fraksi PDIP pada 1999-2000, kemudian terpilih menjadi
Sekjen DPP PKB melaui Muktamar PKB 2002. Nah dengan demikian, apakah
Saifullah Yusuf bisa dikatakan kader PKB asli?” kata Bambang seperti rilis
yang diterima depoliticanews, Selasa (18/7).

Yang perlu digarisbawahi, ujar Bambang, dalam ketetapannya PKB akan
prioritas untuk calon perempuan. Tentu hal ini bila dikolerasikan dengan
Pilgub Jatim 2018, maka PKB yang sejak awal sudah menyatakan mendukung Gus
Ipul, akan membuka peluang bagi bakal calon gubernur lain.

“Kalau sudah mendukung Saifullah Yusuf, mengapa menetapkan prioritas calon
perempuan? Itu bila wacananya kita tarik ke Pilgub Jatim,” jelasnya.

Bambang juga tidak menampik, bahwa Gus Ipul mengawali karier politik
melalui organisasi GP Ansor hingga menjadi Ketua Umum GP Ansor selama dua
periode yaitu 2000-2005 dan dilanjutkan 2005-2010. Namun, tandas Bambang,
GP Ansor adalah ormas pemuda yang berafiliasi dengan Nahdlatul Ulama (NU)
yang tidak ada kaitanya dengan partai politik PKB. “GP Ansor bukan PKB.
Tetapi terserah bila ada pihak lain yang menyebut Saifullah Yusuf sebagai
kader asli PKB,” cetus pria asal Surabaya yang akrab disapa Bambang Smit
ini.

Mantan aktivis buruh ini pun mulai mengkait-kaitkan rilis Desk Pilkada DPP
PKB dengan pernyataan kontroversial Katua Umum PKB Muhaimin Iskandar yang
menyebut telah ‘melobi’ Presiden Joko Widodo agar tak mengizinkan Menteri
Sosial Khofifah Indar Parawansa maju dalam Pilgub Jatim 2018.

“Saya melihat dua hal itu (rilis Deks Pilkada PKB dan pernyataan Muhaimin)
merupakan satu rangkaian manuver politik. Sepertinya klop (sesuai). Saya
mengkhawatirkan PKB pada 2018 justru sejatinya condong kepada Khofifah
Indar Parawansa,” ujar Bambang.

“Bisa saja pernyataan Pak Muhaimin yang menyebut telah melobi presiden agar
Khofifah tidak maju Pilkada Jatim itu bukan keceplosan, tetapi sebuah
kesengajaan,” imbuhnya.

Menurut Bambang, politikus sekaliber Muhaimin Iskandar tentu tahu hal-hal
yang perlu dikemukakan ke khalayak dan tidak. Sehingga, apa yang telah
diucapkan Muhaimin di itu sebagai bagian dari strategi politik.

“Melobi presiden untuk tujuan politik semacam itu bagaikan ‘operasi
rahasia’. Lha kok diumbar ke publik. Saya menduga pernyataan Muhaimin itu
dilakukan dengan sadar,” ujarnya.

Menurutnya, jika Muhaimin menyatakan (melobi presiden) itu secara sadar,
maka tujuan politik Muhaimin bukanlah menghadang Khofifah untuk memuluskan
langkah Saifulah Yusuf (Gus Ipul) di Pilgub Jatim. Tetapi, kata Bambang,
justru Muhaimin-lah yang membukakan jalan bagi Khofifah untuk berkontestasi.

“Saya tanya pada anda, jika situasinya dibuat seperti ini, siapa yang
sebenarnya telah dihadang, Khofifah atau Gus Ipul? Anda simpulkan sendiri,”
paparnya.

Lebih jauh, Bambang menilai, bahwa manuver PKB (rilis Deks Pilkada PKB dan
pernyataan Muhaimin) seperti sinyal bahwa atas dasar kepentingan politik
yang lebih besar yaitu Pemilu 2019, PKB tidak begitu berharap banyak pada
Saifullah Yusuf.

“Saya tidak mengatakan kalau itu sinyal-sinyal yang menandakan bahwasanya
komitmen dukungan PKB pada Saifullah Yusuf akan batal. Namun setidaknya itu
akan menjadi ganjalan tersendiri. Bahasa sederhananya, manuver itu secara
tidak langsung menciptakan jarak antara PKB dengan Saifullah Yusuf. Saya
kira semua tahu bahwa dalam politik apapun bisa terjadi. Kita lihat saja
apa yang terjadi pada 2018 nanti,” pungkasnya. (Amr)




Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *