Polisi Tangkap 28 Anggota Geng Motor

Depoliticanews – Polda Metro Jaya dan Polres jajaran membekuk 28 tersangka
kasus tindak pidana yang dilakukan geng motor, 17 pelaku tawuran, dua
tersangka pemilik senjata api, dan dua tersangka kasus pencurian dengan
kekerasan, dalam operasi cipta kondisi selama dua pekan belakangan.
Kapolda Metro Jaya Irjen Pol Mochamad Iriawan mengatakan, puluhan pelaku
itu ditangkap dalam operasi cipta kondisi jelang dan pada saat Ramadan.

“Kita ketahui akhir-akhir ini banyak kejadian yang muncul di publik,
diantaranya munculnya berandalan bermotor atau geng motor. Kalau kami
menyebutnya berandalan, karena tidak semua melakukan tindakan pidana, di
mana ada yang betul-betul menyukai otomotif, namun ada yang juga
menyelewengkan kegiatan tersebut melakukan tindak kejahatan,” ujar Iriawan,
di Mapolda Metro Jaya, Jumat (2/6).

Dikatakannya, ada 19 kasus yang diungkap penyidik Polda Metro Jaya dan
Polres Jajaran seperti geng motor, kepemilikan senjata api, tawuran, dan
pencurian dengan kekerasan.

“Pelaku yang ditangkap dan ditahan 49 orang. Di mana dari pelaku berandalan
bermotor atau geng motor ada 28 orang. Itu memang menjadi perhatian kita
bersama karena perilaku atau perbuatannya cukup meresahkan masyarakat, kita
sudah lakukan langkah-langkah represif. Kemudian tawuran 17 orang, senjata
api ada dua dan pencurian kekerasan ada dua,” ungkapnya.

Ia menyampaikan, kasus geng motor diungkap di daerah Cipinang Melayu,
Makasar, Jakarta Timur. Kemudian, di Mampang Prapatan, Jakarta Selatan.
Termasuk, di Sukmajaya, Depok.
“Di Mampang, di sana ada geng motor yaitu Jepang (Jembatan Mampang) sudah
kita teliti. Kemudian di Depok itu Sukmajaya. Kemudian Bekasi Kota, Jati
Waringin, Pondok Gede, Jati Asih, kemudian Bekasi Kabupaten, Cibitung,”
katanya.

Ia menyebutkan, barang bukti yang disita antara lain senjata tajam, pipa,
bambu, panah, handphone, sepeda motor, airsoft gun, dan minuman keras.
“Kami juga sudah lakukan langkah-langkah lain. Kami sudah perintahkan para
Kapolres untuk mendatakan kumpulan-kumpulan geng motor yang ada di wilayah
hukumnya, kemudian kita akan berikan pemahaman kepada mereka, anak-anak
yang bergabung dalam grup motor. Komunitas motor diperbolehkan, namun yang
tidak boleh adalah mengarah kepada tindak pidana,” jelasnya.

Menurutnya, para pelaku sebagian besar masih remaja sehingga akan dikenakan
tindakan hukum sesuai dengan aturan yang berlaku.

“Kami tindak sesuai aturan hukum yang ada. Mereka mencari jati diri, kalau
bisa melukai itu pangkatnya tinggi, jadi naik. Sehingga mereka mengambil
barang dan melukai. Mereka rata-rata dapat handphone atau motor, kalau
dijual HP bisa Rp 500.000 sampai Rp 1 juta, kalau sehari dapat empat itu
bisa Rp 4 juta, belum kalau motor itu bisa mereka preteli dan dijual,”
paparnya.

Iriawan menegaskan, polisi akan terus melakukan operasi cipta kondisi
hingga nanti masuk Operasi Ramadhania.

“Sebentar lagi akan memasuki Operasi Ramadhania, namun operasi ini tetap
akan kami lakukan, antisipasi terhadap kejahatan jalanan. Kami bersama
gubernur juga sudah imbau masyarakat berkaitan dengan sahur on the road di
mana untuk tidak dilakukan karena ternyata setelah dievaluasi lebih banyak
kekerasan yang timbul dari pada manfaatnya, lebih banyak mudharat dari
manfaatnya. Untuk itu kami memohon kepada lapisan masyarakat untuk bisa
mentaati apa imbauan atau aturan yang disampaikan oleh pemerintah maupun
kami dari kepolisian,” tandasnya. (Amr)




Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *