Polisi Tembak Mati Pembunuh Davidson

Depoliticanews – Polisi menembak mati eksekutor penembakan terhadap
Davidson Tantono (31). Perampok berinisial SP itu melakukan perlawanan saat
hendak ditangkap polisi.

“Ya, yang ditangkap eksekutor,” ujar Kabid Humas Polda Metro Jaya Kombes
Argo Yuwono, Rabu (21/6).

Direktur Reskrimum Polda Metro Jaya Kombes Pol Rudy Heriyanto Adi Nugroho
mengatakan, SP terpaksa ditembak mati karena melawan.

“Merebut senjata api anggota. Kemudian anggota melakukan tindakan tegas dan
terukur dengan menembak yang bersangkutan, karena dikhawatirkan
membahayakan keselamatan petugas dan masyarakat lainnya,” kata Rudy.

Bermula saat SP ditangkap di Banyuwangi, Jawa Timur. Polisi meminta SP
untuk menunjukan senjata api yang digunakan untuk menembak Davidson
Tantono. Sebab, tersangka mengaku membuang senjata api di jalan bypass
Sidoarjo.

“Tersangka mengaku membuang senjata api di jalan bypass Sidoarjo,” kata
Rudy.
Saat menunjukan senjata api, SP malah mendekati seorang anggota. Kemudian,
berusaha mencabut senjata api milik anggota yang mengawalnya.

“Dia mau mencabut senjata api anggota sehingga ditembak secara tegas dan
terukur,” ucap Rudy.

Komplotan perampok Davidson termasuk dalam jaringan penjahat di Lampung.
Dua bulan terakhir beraksi, mereka merampok uang dengan total
Rp1.181.800.000,00.

Komplotan tersebut melancarkan aksinya di 23 lokasi berbeda. Secara
sistematis mengincar korban dengan modus menggembosi ban kendaraan.
Kasubdit Resmob Ditreskrimum Polda Metro Jaya AKBP Aris Priyono menyebut,
komplotan itu, berasal dari desa yang sama di Lampung.

“Saling kenal, dan kebanyakan satu desa, satu kampung. Mulai rampok dari
April,” ujar Aris saat dikonfirmasi wartawan, Minggu (18/6).

Berdasarkan catatan kepolisian, sejak April 2017-Juni 2017, komplotan ini
sudah malang melintang melakukan aksinya di lintas provinsi. Komplotan ini
memang dikenal sadis dan kerap melukai para korbannya.

Tidak tanggung-tanggung, setiap kali beraksi komplotan ini bisa membawa
hasil puluhan hingga ratusan juta rupiah. Seperti saat merampok di
T‎angerang, komplotan ini mengantongi uang Rp 60 juta, di Cidahu Rp 60
juta, Cirebon Rp 10 juta, Rawa Buaya Rp 40 juta, Pesing, Jakarta Barat Rp
80 juta, dan Bekasi Rp 800 ribu.

Selanjutnya di Pemda Bogor Rp 60 juta, di Kampung Melayu Rp 60 juta, Cidahu
Rp 31 juta, Cirebon Rp 60 juta, Kalijodo Rp 80 juta, Cengkareng Rp 20 juta,
Taman Topi Rp 40 juta, Ciawi Rp 60 juta, Ciluwer Rp30 juta, Kampung Melayu
Rp 50 juta.

Kemudian, Pasar Minggu Rp 70 juta, Kalibata Rp 30 juta, Tangerang Rp 20
juta, Kedung Halang Rp 100 juta, Kalimalang Rp 50 juta, Cikarang Rp 150
juta, serta Indovision, Jakarta Barat Rp 100 juta.

Polisi menengarai, komplotan perampok jaringan Lampung ini memiliki anggota
lebih dari sepuluh orang. Polisi telah menangkap empat pelaku, yakni DTK,
IR, TP, dan M. Mereka memiliki peran yang berbeda. DTK berperan sebagai
pemantau di dalam bank. Sementara IR, berperan sebagai pemilih target.

Kemudian, TP berperan sebagai penggembos ban. Ia memasukan batang besi
payung ke ban mobil Davidson. M, berperan sebagai penghambat. Ia
mengendarai mobil Xenia untuk menghambat laju kendaraan Davidson.
Sebelumnya, IR juga ditembak mati karena melakukan perlawanan terhadap
petugas. (Amr)




Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *