PSSI Menolak Disebut Inkonsistensi

Depoliticanews – Persatuan Sepak Bola Seluruh Indonesia (PSSI) menolak
disebut sewenang-wenang dan inkonsistensi dalam penangguhan aturan pemain
U-23 di Liga 1 2017. Ketua Umum Federasi Nasional Letnan Jenderal (Letjen)
Edy Rahmayadi menegaskan, justru, penangguhan batasan pemain usia muda
tersebut, agar sistem kompetisi sepak bola nasional, lebih objektif.

Edy mengatakan, agar seluruh kesebelasan peserta Liga 1, paham dengan
tujuan dan maksud dari regulasi tersebut. “Tidak ada yang kita buat
inkonsisten. Klub-klub ini memang kalau kita bilang A, mereka pasti bilang
B. Kita bilang B, mereka pasti bilang A,” katanya, Minggu (2/7).

PSSI, pekan lalu menghentikan penerapan regulasi U-23 di Liga 1. Kewajiban
seluruh klub peserta kompetisi nasional memainkan lima pemain U-23 dalam
setiap pertandingan, tak lagi berlaku mulai pekan ke-3 Liga 1. Putaran
ketiga Liga 1, akan kick off, pada Senin (3/7).

Sejumlah menejemen dan kepelatihan masing-masing kesebelasan keras mengecam
pencabutan regulasi tersebut. Presiden Madura United (MU) Achsanul Qosasi
menilai, pencabutan aturan tersebut, bentuk dari ketidakpastian di federasi
induk sepak bola nasional.

Menurut dia, aturan tersebut, mula-mula penerapannya mendapat penentangan
dari klub-klub peserta Liga 1. Akan tetapi, saat kompetisi dimulai, pada 15
April, sampai pekan ke-12 Liga 1, Juni lalu, seluruh kesebelasan menerima
dan menjalankan. Bahkan, seluruh klub, mengontrak tak kurang dari 27 pemain
U-23 agar regulasi tersebut dijalankan.

Namun, kata dia, PSSI malah menghentikan aturan pemain muda tersebut.
Achsanul curiga, penerapan dan penghentian regulasi tersebut, sebagai upaya
sejumlah pengurus induk sepak bola nasional, mengakali keterpurukan
beberapa klub besar di Liga 1 saat ini.

Sebab, kata dia, ada beberapa nama pengurus PSSI dan juga operator Liga 1,
yakni PT Liga Indonesia Baru (LIB) yang terikat sebagai pemilik dan
pemegang saham, bahkan pengurus di klub-klub di Liga 1. “Pelajaran penting
yang bisa kita ambil adalah, ke depan jangan ada pengurus klub yang duduk
menjabat di LIB dan pembuat regulasi di PSSI,” kata Achsanul.

PSSI keras menolak klaim tersebut. Edy melanjutkan, dirinya bertanggung
jawab atas penerapan regulasi U-23, pun juga, kepastian penangguhannya.
“Tidak lah. Itu kan saya yang buat. Saya juga yang mencabut. Saya kan tidak
punya klub,” kata Edy melanjutkan.

Edy menjelaskan, regulasi U-23, penerapannya semula punya tujuan nasional.
Yaitu membangun skuat timnas Garuda Indonesia U-23. Kewajiban 18
kesebelasan peserta Liga 1, memainkan tiga pemain muda, dan dua sebagai
cadangan, merupakan basis seleksi timnas asuhan pelatih Luis Milla Aspas
saat ini.

Para pemain muda tersebut, dikatakan dia, sebagai persiapan Milla,
membentuk skuat Merah Putih dalam dua gelaran penting musim ini. Yaitu,
kualifikasi Piala Asia U-23 2018 yang akan digelar pada 19 sampai 23 Juli.
Dan, sebagai skuat utama Indonesia, digelaran Sea Games 2017 di Kuala
Lumpur, Malaysia pada pertengahan Agustus nanti.

“Dan skuat timnas kita sudah terbentuk. Sudah kita daftarkan. Jadi untuk
sementara, kita hentikan aturan itu,” terang Edy. Menurut dia, dengan
penyetopan regulasi U-23, membuka pintu bagi klub-klub di Liga 1, kembali
memainkan pemain-pemain senior andalan masing-masing.

Jenderal bintang tiga di Angkatan Darat (AD) tersebut, mengatakan, PSSI
juga punya alasan lain menghentikan sementara regulasi tersebut. Kata dia,
tak bisa ditolak penerapan regulasi U-23 di Liga 1 memunculkan
ketidakadilan. Itu terbukti, dari seleksi dan pembentukan timnas U-23, yang
tak merata ke semua klub.

Dari 18 klub di Liga 1, hanya ada sekitar empat kesebelasan yang
mendominasi perekrutan para pemain timnas. Yaitu, Bali United, Persib
Bandung, Arema FC, dan Bhayangkara FC. Para kesebelasan tersebut, dua
sampai empat pemain mudanya, berhasil menembus level skuat timnas.

Sementara kesebelasan lainnya, cuma mampu mengirimkan rata-rata satu pemain
terbaiknya ke level timnas. “Kan ini tidak adil. Kasihan kita melihat
Bhayangkara, Bali United, Persib itu di Liga 1,” kata Edy. Panglima Komando
Strategis Angkatan Darat (Pangkostrad) optimistis, dengan menghentikan
regulasi U-23, sistem kompetisi sepak bola nasional, akan lebih berimbang
dan objektif. (Amr)


TAG


Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *