Video Penyerangan Oleh Geng Motor Viral, Polisi Turun Tangan

Depoliticanews – Rekaman video berisi penyerangan terhadap pengendara
sepeda motor yang dilakukan sekelompok pemuda viral di media sosial. Aksi
itu, diduga dilakukan anggota geng motor di kawasan Lenteng Agung,
Jagakarsa, Jakarta Selatan.
Video berdurasi 1 menit 46 detik itu, merekam aksi sekelompok pemuda yang
menghadang dan menyabetkan senjata tajam ke pengendara sepeda motor yang
melintas di tengah jalan pada malam hari.

Ada sekitar lima sepeda motor yang melintas, tiga berhasil lolos dari
hadangan, namun nahas dua lainnya bertabrakan hingga terjatuh setelah salah
satu anggota kelompok itu menebaskan senjata tajam.
Salah satu pengendara yang jatuh diduga perempuan. Ia kemudian bangun dan
terpincang-pincang melangkah ke pinggir jalan, selanjutnya duduk di trotoar.

Merespon video viral itu, Kasat Reskrim Polres Metro Jakarta Selatan AKBP
Budi Hermanto mengatakan, pihaknya masih melakukan penyelidikan dan
mendalaminya. Anggota sudah turun ke lapangan dan meminta keterangan dari
warga sekitar.

“Kita masih lidik. Kita baru mengetahui informasi video itu mulai tadi
malam. Kita coba sesuaikan dari arah spot orang yang merekam video
tersebut, kita coba temukan dengan angle lokasi yang sama itu sekitar
Jagakarsa arah jalan cabang depan SMA 38. Ini masih kita dalami. Termasuk
adanya info dari warga, kejadian itu (diduga) dua bulan atau tiga bulan
yang lalu. Namun, kita akan pastikan,” ujar Budi, di Mapolres Metro Jakarta
Selatan, Selasa (23/5).

Dikatakannya, polisi akan mencoba mencari korban perempuan yang terjatuh
itu untuk mengungkap kasus.
“Terhadap video yang viral, kami akan coba cari korban. Kami juga minta
bantuan agar diinformasikan. Karena sejauh ini Polsek Jagakarsa sendiri
belum ada laporan masyarakat terkait adanya korban di video viral tersebut.
Kami akan jemput bola,” ungkapnya.
Ia menyampaikan, Polres Jakarta Selatan sudah membentuk tim untuk memback
up Polsek jajaran mengantisipasi aksi geng motor.

“Menyikapi kejadian tersebut, kami sudah membentuk tim yang memback up
Polsek-Polsek. Kami akan turun dan proses kepada setiap orang yang membuat
onar serta keresahan. Ini antisipasi juga adanya aksi selama bulan puasa,
biasanya pada sahur on the road bisa menimbulkan rasa ketakutan, kecemasan
warga juga,” katanya.

Sebelumnya, broadcast tentang aksi geng motor di wilayah Jagakarsa juga
sempat viral di media sosial beberapa minggu belakangan. Hal itu pun
membuat resah masyarakat.
Merespon isu itu, Polres Metro Jakarta Selatan dan Polsek Jagakarsa
menyikapinya dengan melakukan patroli dan berhasil menangkap tiga orang
yang diduga merupakan anggota geng motor. Mereka diantaranya berinisal PH,
WRA dan IM.

“Sat Reskrim Polres Jakarta Selatan bekerja sama dengan Polsek Jagakarsa,
telah mengamankan tiga orang pelaku pada tanggal 20 Mei 2017 kemarin. Dua
orang diamankan pada pukul 01.00 dini hari, satu orang diamankan pukul
02.30 WIB,” jelasnya.

Budi menuturkan, geng motor ini biasanya berkumpul minimal 15 sampai 20
sepeda motor dan melakukan konvoi dengan membawa senjata tajam.
“Tujuan mereka bukan untuk membegal atau merampas harta kekayaan orang.
Tetapi mereka sengaja untuk membuat onar melukai orang,” ucapnya.

Ia menegaskan, Polres Metro Jakarta Selatan saat ini konsen untuk
mengungkap aksi geng motor yang meresahkan masyarakat.

“Kami akan lakukan tindakan tegas di lapangan, secara tepat dan terukur.
Jadi bagi pelaku geng motor, jika kalian bermain di wilayah Jakarta
Selatan, kami tidak akan sungkan-sungkan untuk melakukan tindakan tegas di
lapangan secara tepat. Ini akan kami buktikan. Kami akan proses pelaku ini,
kami akan sidangkan, termasuk kami akan ungkap pelaku-pelaku lain,”
tegasnya.
Ia menduga, viralnya broadcast terkait aksi berutal geng motor diduga
bermula dari adanya tantangan sekelompok orang di wilayah Jagakarsa melalui
media sosial kepada geng motor lainnya di wilayah Depok, Bogor, Jakarta
Timur, dan lainnya.

“Ada yang mengatasnamakan geng motor Amerika, Jepang, Kober, dan lainnya.
Jadi dari hasil lidik, mereka ini pertama kumpul lima motor, setelah itu
ramai-ramai. Ini rata-rata usia di bawah 20 tahun. Mereka kumpul, setelah
itu konsumsi miras, nanti ada yang dituakan berkisar usia 27 tahun membawa
senjata tajam. Jadi senjata tajam ini diberikan oleh komandan kelompok.
Siapa yang berani membuat onar, membacok secara membabi buta, nanti
diangkat. Setelah kumpul, mereka konvoi, senjata ini diseret di aspal.
Setelah itu dia membabi buta, melihat ada sekelompok orang menggunakan
sepeda motor, merasa itu saingannya dihajar,” paparnya.

Terkait hal ini, Budi juga mengimbau kepada masyarakat, agar tidak
membagikan informasi yang belum tentu kebenarannya.

“Kami imbau juga, agar kita bijak menggunakan sarana media sosial, dalam
menginformasikan informasi yang kita sendiri belum tahu kebenarannya,
sehingga tidak membuat rasa takut di masyarakat, tidak menjadi pertanyaan
masyarakat,” tandasnya. (Amr)




Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *