WNI Terlibat Teror di Marawi Tak Bisa Dipidana

Depoliticanews – Undang-undang Pemberantasan Tindak Pidana Terorisme no.
15/2003 tak berdaya untuk menindak puluhan warga negara Indonesia (WNI)
yang bergabung dengan kelompok pro-ISIS di Marawi, Filipina jika suatu saat
mereka balik ke Indonesia.

Padahal ada minimal 38 orang WNI, di mana satu adalah perempuan, yang
mengangkat senjata melawan pemerintah sah Filipina.

Dari 38 itu, empat dipastikan tewas, enam dideportasi, dan enam lebih dulu
pulang. Sehingga ada 22 anak negeri yang bergabung dengan kelompok teror
itu.

“Di Marawi itu kita menyebutnya Foreign Terorist Fighters (FTF).
Diperkirakan dari WNI total ada 38 terdiri dari 37 laki-laki dan satu orang
perempuan,” kata Kadiv Humas Polri Irjen Setyo Wasisto di Mabes Polri Jumat
(2/6).

Setyo mengatakan WNI yang pulang dari sana dan dideportasi tak akan
dipidana. Ini kelemahan UU Antiterorisme kita karena tidak ada pelanggaran
yang dilakukan mereka di sini.

“Pelanggaran dilakukan di luar negeri, locus delicti-nya ada di luar
negeri. Tapi Densus sedang mendalami. Mereka kan ada profiling, kita
profiling apakah ada data kegiatan (teror) mereka di Indonesia,” urainya.

Sementara itu, masih kata Setyo, Polri, khususnya Polda Sulawesi Utara,
sudah mengirim 119 personel Brimob untuk menambah kekuatan di perbatasan
yakni di Pulau Marore, Miangas, dan Nangusa.
“Itu adalah pulau yang terluar di Sulawesi Utara dan jarak paling dekat
dari Filipina Selatan. Ada rencana juga diperkuat 200 orang Brimob
nusantara. Mereka nanti akan disebar memperkuat perbatasan bersama dengan
TNI yang sudah menempati pos di perbatasan,” urai Setyo. (Amr)




Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *